ikanikan berenang dengan rela menuju pengilar milik
lelaki tua yang baru saja melepas keringat usai
mantang di pohonpohon kehidupan
ikanikan itu kelak menjadi gempita saat tubuh mereka
disiangi tangan renta, mafhum bahwa demikian bukti
persahabatannya dengan sungai yang bertambah
ringkih dilibas toltol luar kota

sepanjang jalan, lelaki tua terus saja meramal nasib
ikanikan pada takdir istrinya yang akan
meraungraung ketika mendengar bunyi buldoser lalu
terbahak meratapi sepanci masem pedes
masakannya
kian kemari, aroma menguar kian susut menyisa kuah
kecut. bawang, laos, cabai, kunyit membusuk dalam
timbunan semen dan koral. insang dan belulang
ikanikan lumat dalam hikayat
lelaki tua menggapaigapai hendak menimang
ikanikan namun sungai dengan cepat menutup pintu
dan membiarkan lelaki itu pilu

sungairengit, 28022018


Puisi Pilihan I – Poetry Prairie Literature Journal #8 “Makanan & Manusia”

Penulis: Umi Laila Sari