Dari Gudeg Sampai ke Rendang, Betapa!

betapa jauh perjalanan sejarah dari gudeg
sampai rendang
dalam legenda tersurat dari bumi mataram
sampai minang
betapa jauh jarak rumah gadang
sampai ke pendopo joglo*)
tetapi betapa dekat dalam kitab kuno
kisah juang tuanku imam bonjol dan pangeran diponegoro

laukpauk sambal dan serbaneka sayur
lambang cinta warisan leluhur
betapa panjang petualangan semangkuk bakmi dan pizza
adakah sepanjang pengembaraan
cheng-ho dan ibn battuta
betapa jauh jarak budaya pribumi
dan para perantau manca
namun betapa dekat keduanya dalam pusaran masa
ternyata budaya masakan juga titian persaudaraan bangsa
kendati kadang di celahnya terselip duri dalam ketiak
tatkala perkenalannya harus lewat bedil, keris dan tombak
gudeg dan rendang, bakmi atau burger, kebab atau pizza
hanyalah selera, asin-manis lidah-bibir budaya manusia
beragam tabiat menyimpan hakikat nalar dan rasa
hanya seteguk air kelapa atau kokakola
itulah sejatinya kehidupan di dunia!

(bukan pertanyaan hidup untuk makan atau sebaliknya
tapi apakah makna makan bagi keutuhan hidup manusia!)

2018, bumi bagelen

*) Joglo : bentuk bangunan tradisional Jawa

Puisi Pilihan 2 – Poetry Prairie Literature Journal #8 “Makanan & Manusia”

Penulis: Soekoso DM

Berita Bayi Mati

hari kemarin ada bayi mati, berlaksa bayi mati
tergilas lalulintas tertimpa air bah terbakar lahar tertikam wabah
terbencana di desa di kota di jurang di lembah berduri

hari ini ada lagi bayi mati, berlaksa bayi mati
di ruang aborsi dieksekusi ibunya sendiri sebab bapak biologisnya
berlari sembunyi dikejar hantu yang muncul dari benak sendiri
di ruang pengap sebab dirudapaksa kakeknya disodomi gurunya
disekap mulutnya dihapus namanya dijadikan komoditi
masadepannya dikebiri masalalunya dikubur paksa
tetapi tak ada lagi yang menangisinya

orangorang kehilangan belas, airmatanya tuntas
terpanggang kemarau keras
negeri apakah ini, tanya satu sukma bayi pada matahari
kenapa tragedi demi tragedi terus terjadi?
– tanpa jawab yang pasti

esok hari masih ada bayi mati, berlaksa bayi mati
di subuh hari karena asap polusi karena ngisap narkoba karena
nenggak sianida karena teror bom karena kurang gizi
karena vaksin bloon karena radiasi ai-ti karena virus drakula
karena teror selfi karena patah-arang bunuhdiri

orangorang kehilangan nyali, nadi-aortanya mati
tertindih ketakpedulian diri
zaman apakah kini, tanya sukma bayi lain pada rembulan
kenapa misteri kejadian di jagat ini semakin edan?
– tanpa kepastian jawaban

tibatiba bangkit berlaksa bayi yang mati tanpa nama
menggali lianglahat lalu mengubur sendiri mayat mereka
beramairamai di halaman depan istana negara!

2016, bumi bagelen


—–