aku pernah mati bukan pada panggilan kekal-Mu
waktu sujud dalam kepalaku tidur
buku suci-Mu berdebu pada rak-rak dadaku
kelanaku jauh pada negeri tak berlampu
sampai pada masa lidahku kelu menyapa nama-Mu

kini masih bolehkah aku bertamu?
di sepertiga gelap semesta
sunyi telah kubungkus dalam sedekap tangan di dada
kata telah kuhamparkan pada helai sajadah
aku rindu menjatuhkan titik air mata pada haribaan-Mu

apakah pulangku dalam langkah terlambat?
masihkah ada kereta menungguku menuju negeri ampunan?
telah kubaca, konon di negeri kekal-Mu itu waktu tak pernah malam
mata air tak pernah kering

pada pertiga gelap semesta kini
ada rukuk sujud hendak kutunaikan
aku rindu melafal kitab-Mu
aku rindu pada wangi air bersuci-Mu
aku rindu pulang menempuh rute ibadah-Mu

sampai aku tahu, di tanah kekalmu ada titah ampunan untuk celaku

Padang, 13 juli 2017

Penulis: Iswadi Bahardur
Poetry Prairie Literature Journal #6