Alam di Bawah Air

Ingin kuberlari ke bawah air hanya untuk mengagumi keindahanmu
Namun tangan emas itu ingin melihatmu dengan cara mereka
Tidakkah mereka ingat kau bukanlah pajangan dari Tuhan
Kau ciptakan rumah untuk biota laut yang membutuhkan tempat bersandar
Tapi apa balasan mereka?

setan uang itu hanya merusak seluruh ekosistemmu tanpa peduli
tidak ada masa depan bagimu untuk kuperlihatkan pada anak cucu
kini kau tertutup minyak yang ditumpahkan di atas kepalamu
mereka tidak sadar siapa sebenarnya yang mengisi perut mereka
sekarang alam di bawah air sudah hampir musnah oleh tangan itu
besok atau lusa mungkin mereka ingin tidur dengan ikan dan terumbu karang

~Muhammad Sabil~

Advertisements

Sajak Ikan Kecil

Aku anak pantai yang bermain
dengan ombak masa lalu
Ikan-ikan kecil membuatku lepas tertawa
Dari tarian sirip-sirip rindu
Melambai seolah larut sepanjang pantai kenangan

Hai, bawah laut
Bolehkah aku berenang ke urat nadimu
Menyelam pada kedalaman yang berkelipkan cahaya mutiara
Bersemayam di antara asin batu-batu

Aku akan tetap menjagamu
Sebab, mungkin hiu-hiu bergigi dinas mengancam
Pungutannya membuatmu terpaksa berdarah
Lagi sengketa antar wilayah
Lalu meranjaumu hingga luka bernanah

Kami hanya ikan kecil lemah
Dari sekian pulau yang usang
Walau hati kami terluka karena terpaksa
Meledakkan laut demi terbebas
dari taring-taring ganas
Hingga kujadikan alasan agar lepas

28 November 2016
~Muhammad Iqbal MF~

Tetesan Doa di Pantai

Pantaiku,
Ombak pagi sudah hampir menelan bulan
Ziarah kepiting-kepiting kecil
Bergegas sembunyi kemudian muncul kembali lagi
Seperti waktu yang terus terulang-ulang

Dalam tadabbur alam
Kusaksikan sang Ilahi
Di pantai hati berpasirkan dzikir
Dari tetesan doa burung-burung

Sembari menadahkan tangan memohon ampun
Tersujud kepala di tepian sepertiga malam
Mengalunkan nafas yang tersedu-sedu
Di kedalaman lautan tasbih qalbu

Deraian resah qalbuku mengisak
Tangis yang tiada tepian di ujungnya
Namun tetesan itu membuat mata jernih
Ketika memandang laut yang luas
Hamparkan mentari yang berenang kilauannya di lautan hati.

28 November 2016
~Muhammad Iqbal MF~

Ombak Pantai Lombang

setetes ombak menyeretku ke tengah samudera
menyelami karang-karang jiwa
memaknai laut yang membara
lantaran bibirnya tempias ke dasar bahaya

di tepi bulu alismu, Uliefa
aku menaiki perahu waktu
gelombang menerpa
gerimis menyapa

cemara yang mengganti bulu matamu
tak henti-henti aku elus
menerangi lampu cakrawala
dan menemani langit senja

ombak pantai lombang
kadang kau datang dengan tenang
kadang kau datang dengan perkasa
dan aku tak peduli pada penjaga dan penguasa
yang menyeretmu ke ladang sengsara

wajahmu putih, tubuhmu biru
kau pelihara ikan-ikan tongkol putih
yang segar dan terkenal enak
semoga kau tak mati di telan ambisi

ombakmu seputih ikan-ikan
cemaramu sehijau karapan

Battangan, Januari 2016
~Matroni Muserang~

Dunia Bawah Laut

Alam samudra…
Dirimu membentang bagaikan sebuah lukisan
Keindahanmu merayap di pelupuk mata setiap insan
Menembus ke dalam relung jiwa
yang mendambakan sebuah kebahagiaan
Menyimpan seribu misteri kehidupan
yang tak dapat dipecahkan
Menyelimuti terumbu karang
yang memberi tempat segala penghidupan
Ikan-ikan kecil menari dan bersukaria menikmati
kejernihan alam yang kau berikan

Mutiara-mutiara nan indah berkilau dalam
kerang-kerang yang memberi perlindungan
Sungguh harmonis, tenang tiada kejahatan
Saling memberi, saling menghidupi,
penuh kasih sayang
Bervariasi bentuk dan rupa tak menjadi penghalang
dari berbagai macam keragaman
Duniamu sungguh indah memikat seluruh jiwa yang ada dalam genggaman

Bunga-bunga menghiasi taman-taman
yang tak memiliki udara kehidupan
Sangatlah besar keagungan-Nya dalam menciptakan surga di alam lautan
Pasir-pasir putih selalu setia menjadi dasar sebuah pijakan
Gulungan-gulungan ombak senantiasa menjadi benteng pertahanan
Bintang-bintang tetaplah menjadi penerang dalam kegelapan di dasar lautan
Hiu-hiu jadilah penjaga dari segala macam kejahatan
Gurita dalam kehidupan malam,
tutuplah mata segala pencemaran
Lestarilah engkau sampai akhir penghidupan
Wahai pesona penghapus lara dalam kesedihan

~M. Abdul Rasyid~

Muara Mimpi

Tatapanmu menyamar dalam perangai ikan
Yang diam-diam mengawasiku penuh tanya
Tubuhnya berkilau menantang sekat yang diterobos matahari
Aku ingin mengenalimu kembali lebih dekat bersama mereka
Lalu menjajakan cerita dalam selimut rumput
Akan kusergap keheningan karang sampai bayangmu terperangkap
Mataku enggan berbatasan memandang langit bawah
Langit yang tidak tuli, gaduh yang berirama
Juga oase endapan surga
Tanpa kacamata penghalang doa
Buih sedang menungguku
Sambil merayu rambut pantai dengan bisik sisirnya
Pernah kau selami waktu bersamaku
Bersenyawa dalam warna jernih lautan
Jika saat ini sekali lagi
Tubuhmu mungkin tidak bernisan

Jember, 17 Oktober 2016
~M. Zaenul Muttaqin~

Kalam Yang Karam

Ada masa sulit ketika aku tidak bisa menggubah kata-kata
Untuk rindu yang membusur menuju silam
Sebebas pemandangan maha luas
Bagaimana masa kecil seseorang berenang di tempat ini
Lidahku mampu mengecap keagungan yang sama
Ketika ombak bernyawa mendekap tawa anak umur belasan
Yang bermimpi meniup matahari dari kediamannya
Lalu melepasnya pada semesta dataran tandus bertuah
Yang tidak belajar menjaring hikayat

Ikan-ikan tidak menangis meski saudaranya direbut mata kail
Bisa saja anaknya, bisa saja ibunya
Mereka tetap berlari riang menuju perairan antah-berantah
Aku tidak ingin mendaratkan kata-kata
Namun aku leluasa bersua dengan masa kecilku
Ingin merunduk lebih lama sambil bersyukur
Tiba-tiba aku sudah berdiri di pinggir kapal
Yang menyeberangkan bintang tengah malam menuju subuh
Lumba-lumba bersiul menyalami udara, entah salam tangis atau bahagia
Mengarungi ritme yang mereka kenal baik
Daripada dengkur mabuk para penumpang
Kedua kali, ribuan kali

Lautan membimbingku untuk tunduk bersyukur

Jember, 20 Oktober 2016
~M. Zaenul Muttaqin~

Laut Belit

Uap uap meluap ke udara
Memecah amis darat
Mengirimkannya pada surya
Yang sedang bermanja-manja
Sambil menikmati hidangan laut

Air-air bercakap sana-sini
Mencari insang yang berenang
Atau karang-karang yang berlubang
Ibu air kerepotan mengejar anaknya
Yang masih kecil dan sulit diatur

Tangan-tangan berkaret tiba
Ikan ikan kepahitan
Karang-karang menerima kenyataan pahit
Matahari melirik sedikit
Tapi belum sempat mampir dalam masalah

Dasar laut, dasar harus bersuara
Bercerita pada surya yang adil sepertinya
Bahwa dasar laut harus tetap gelap
Sehingga akan tenang di dalam sana
Tanpa ada yang mengusik karena ketakutan.

~Muhammad Ridlo~

Pesona Laut Kita, Nusantara

Pulau-pulau ini berdiam diri
Mengisyaratkan kedekatan
Mengisyaratkan rindu pada hujan
Yang menyemai setiap bulan

Garis laut yang jauh tak terbatas
Berdetak tenang
Mendorong setiap perahu dari layar nelayan
Hanya berteman dengan angin dan senja

Rumput laut dan karang terpaku pada dasar samudra
Menggoyangkan nyiur hijau di dasar samudra
Tanpa angin dan hanya dengan doa
Mereka melahap gelembung-gelembung pada ikan tuna

Surakarta, 22 Oktober 2016
~Muhammad Lutfi~

Senyuman Manis Si Laut Biru

Anganku terdampar ke seluk-beluk keindahan
merangkai biru nan luas mata memandang
Mengarungi luas-dalamnya kata yang tersimpan
mencoba mengelilingi tiap sudut arti maknanya
mencari sebuah jalan di persimpangan penuh misteri
Untuk pecahkan rahasia mutiara tersembunyi

Suara ombak pemecah karang memangggil namaku
Mengajakku hadir menenmani indahnya rahasia
Bersamanya coba habiskan tiap detik waktu
Menyusuri kemegahan cipta tangan Tuhan
Elok di mata nan jatuh jadi pujaan permata
Bilik lain dari titik keindahan dunia

Sambutan manis menyapaku dalam birunya
Berikan aku pencerahan lain yang menyatu
Telusuri terumbu karang yang menawan nan eksotis
Jelajahi luas hamparan biru pemanja mata
Rumput laut mengayun menari menyambutku
Kerang-kerang cantik menghiasi suasana
Bintang laut bersantai menikmati hari ini

Kepiting laut mencoba menyapa si kuda laut
Barisan penyu siap pula berlari mengintari samudera
Ubur-ubur melayang di laut seraya menari
Kawanan ikan badut melemparkan tawa candanya
Lumba-lumba terbang raih arti kebebasan

Cinta dan rasa berpadu dalam harmoni
Yang dirahasiakan agar utuh lestari maknanya
Dalamnya laut biru bukan pembelenggu rasa takut
Kalah rasa itu dengan mahakarya yang kuasa
Diciptakan untuk suatu titik keindahan
Sebagai permata mutiara yang tersembunyi
Pantaslah matahari senja tenggelam dipeluknya
Hilang dalam kehangatan biru yang ia berikan
Si penyimpan berjuta rahasia keindahan dunia
Terpaut nyata kemegahan yang tercipta dari cinta
Titip rinduku pada pesona kemegahanmu
“Senyuman manis si laut biru”

~Fetra Ardianto~