-
Her Living Necklace
I put a necklace around her neck her wrinkled neck was suddenly brighter the crystal beads matched perfectly with her hair Her delicate grey hair touched the tear-like crystal around her neck blemished her skin tone beyond her true beauty Her eyes glow by the light reflected on each flare she smiled so secretly then…
-
Senja di Rahim Hutan
Ada senja Di kaki dan selasela Di balik rerimbunan pepohon julang Di rerumpun akar yang saling menyilang Ada senja beserta mentari dan gelora bala tentara Di bias hijau coklat yang membentang Menggeliat menjilat senyap Di antara kurcaci dan periperi pohon Yang bergelantungan dan terbang menarinari Dongeng masih mengalun di setiap telinga sesemak hutan Menyatiri luka…
-
Perjamuan di Bawah Purnama
Hutan tak jua terpejam mati Meski wajah langit menetaskan jelaga Legam, beraroma sepi Dan lolongan serigala menyambut purnama Rekah kehidupan baru bergulir Bagi nocturnal yang melahap getir Dan kepak-kepak asing berkelebat Pada pusaran malam nan pekat Pemangsa merengkuh senyap Yang berembus di dahan kaku Mata-mata di antara serasah
-
Narasi Sewaktu Kecil
Di atas kereta, semua daun lontar jatuh dalam kening hujan. Menurunkan rintik-rintiknya, mengasapi rerumputan dan berjumpa pada padang senja. Siapakah engkau di sana? Beribu-ribu hujan menelan hutan yang tandus dan berkerlip kisah kereta tua. Pelan-pelan, menguning lewat celah asap di senja ini. Aku tulis dan duduk dengan kopi di tengahnya. Semua termangun, rerindang api berbulu…
-
Bias-Bias Embun
Sinar cakrawala mulai membuih di langit Saat embun mulai menetes perlahan Saat ingin kurengkuh pagi ini di belukar hutan pinus Sinar yang malu-malu mengintip dari celah-celah daun Yang membias ke segala arah Memberikan banyak keindahan Sampai ada sebuah cerita dari kisah Dimana embun mulai menabuhkan gendang nyanyian Seperti bisikan yang lemah Tapi terdengar merdu di…
-
The Tunes of Earth
Ever clearer in search, through will unfettered expanding as the rays, where no fear’s define so now, I tread at the flowering bridge to sense thy scent, never to return …and each lonely trees that devours this path felt how my passion is wanting to enter the fathomless forest with shut eyes as the sacred…
-
Di Sebuah Ranjang
Dia janjikan sebuah air terjun Deras di sebuah ranjang Beserta sungai elok Berkelok Yang membuat kau pada akhirnya Penasaran bagaimana likunya Lantas, dia berbisik “Sungai itu, terletak di pedalaman hutan,” Kau merinding, dia berdalih dingin kau akan sembuh dengan pelukan
-
Blokade Utan
Panggung teater baru saja ditutup baru ribuan bulan yang lalu penampilannya menarik ambon-ambon gemulai menari dengan ribuan pokok hijau yang memainkan kecapi hening seluruh dengan selimut embun dan kabut membubung di antara sela daun-daun mereka bedana dan zapin dari meranti-meranti tiba-tiba memecahkan hening spektakuler! Rentak tari mereka begitu memesona bahagia membubung senang kali semua penonton…
-
Meraba Jejak-Jejak Hutan
|1| adakah sisa setapak dalam ragamu? aliran desah lembut akar-akar mendeburkan ombak di bawahmu pertanda kehidupan kami yang tumbuh dan gugur laksana dedaunan yang kelak menambal retak tanah. adakah pohon-pohon ikuti jejak kakiku sebab kurasakan hempasan nyawa demi nyawa dari ragamu merasuk boneka-boneka tanah jadilah kami.
-
Pohon Rindu
pohon rindu itu tumbuh subur meski hujan yang kau janjikan tak pernah mengguyur musim kemarau hanyalah ancaman yang tak bisa merobohkan pohon rindu yang menjulang kini, telah kusiapkan sebuah keranjang untuk menampung buah pertemuan yang bergantungan di setiap dahan Sumenep, Januari 2015 Fajri Andika. Lahir di Sumenep, Madura. Bergiat di Komunitas Rudal, dan juga aktif…
-
Menara Oksigen
Selagi masih ada nyanyian Sembari menularkan sejuk Kau misterius yang selalu menjawab semua nafas pekat Kegembiraan yang tidak tersentuh belulang catatan Tetaplah terjaga! Sebab kantuk hanya milik mereka yang kekenyangan Namun pada sela ketiak dan bulu-bulu kakimu Tengah saling sahut kuasa di tangan kuasa, rakus yang tiada berpuasa Payung pancaran mataharimu lalu berlarian Ke liang…
-
Poetry Prairie Lite #2
Dear Poetry Lovers, Mohon maaf sekali atas keterlambatan publikasi Journal online kedua Poetry Prairie karena adanya kendala teknis. Akhirnya kami dapat membuka Journal ini kepada publik. Dengan mengangkat tema Kisah Dari Hutan, kami ingin mengajak pembaca pada nuansa alam yang kental dengan keindahan, kemurnian, kekhasan bahkan kekompleksan di dalamnya. Semoga dapat menginspirasi para pembaca untuk…
-
Under the Same Sun
So we live under the same sun where perennial plants grow far from the river’s flow But light or air will not make us the same or make us to hear the same song from the glow of divine sky Cause when the bodies grow soul is another way to go that independently we follow…
-
Senyap Kepakku
Sepasang kaki terpincang-pincang mengejar takdir naas Berteriak seperti kerasukan kepada waktu yang tak sabar menunggu Melupakan kesadaran yang terkelupas di jalan Meluapkan murka atas air mata yang harus tumpah ditindas kegagalan Dua lengan mendekap luka yang semakin ngilu Ditiupi udara bising berbisik Dari mulut-mulut yang berkomat-kamit doa berkhianat menjelma kecewa yang melaknat tercabik-cabiklah benang-benang gaya…
-
Mekarnya Kehidupan
Menghirup bau biru Mengalirkan ke dalam jiwa Merengkuh menguasai pikiran Damai memeluk hati Ketika rasakan lagi Semilir alam membelai Sejuknya hapuskan beban Beratnya terkubur Nyanyian nina bobo kekalutan Seluruh semesta tersapu Mata yang tak henti merayu Mengagumi dan memuji Lukisan nyata mahakarya berharga Lalu kuterbaring Rasakan damai yang tercipta Syukur penuh rasa Di sini aku…
-
Mekarnya Kehidupan
Padahal, pagi masih basah pada kuncup-kuncup angin demikian pula dingin, semarak di hutan cengkeh teduh di puncak Gunung Gamalama pada daun yang bergurau embun pikiranku mendaki sepagi ini pada batas pengetahuan geografis memandang gugusan pulau berwibawa cakrawala kadang hanya butuh meluangkan sedikit pikiran menghargai ayam mematok bintang lalu matahari sebentar lagi gemilang atau membuka sedikit…
-
Tanda
Kubaca tanda yang dikiamatkan waktu Dalam labirin sunyi berdetak ia seperti nadi Rekah menjadi serakan dengus napas Berkelindan debu yang menjadi lumpur :sisa genangan hujan yang turun, kemarin Adalah sapa yang lenyap berbuah bisu Mengurungkan lidah dalam katup bibir Perintah hati laksana titah baginda raja Bahasa tubuh sudah cukup sebagai penanda :mengenalmu sebatas kenangan semata
-
Pergantian
keluar dari lubang penuh ketakutan jeritan menemani kala kita diberikan kekerasan pelajaran awal: hidup tidak sehalus yang kita pikirkan pelukan datang kasih sayang menyusul canda tawa berhias ditengah ruangan yang tadinya kelam pelajaran selanjutnya: akan ada pahlawan yang membuat kita tenang
-
Lambung Sunyi
–elegi kloset dan aborsi Lenganku pucuk rebung dari rumpun bambu nenek moyang. Jemariku mekar mengelopak bunga dipoles sepasang mata buta dan desir darah ibu. Wajahku. O, wajahku lipatan muara terpasang dari ayah yang mencari dan ibu yang menanti disuguhi temaram lampu lalu kunang-kunang melayang. Aku tenggelam di buih api yang terus membara tidak mau mati.…
-
Bunga di Setiap Hati Manusia
Tak ada yang berbeda ketika kehidupan berjalan Terkejar waktu dan melakukan banyak hal yang kita mau Mengakhiri malam dengan letih yang tidak sepadan Dan melalui malam dengan tidur terlelap oleh waktu Tidak ada yang spesial dan semua terlihat membosankan Manusia hidup dengan semua pilihannya dan berakhir semu
-
Pelan-Pelan Rindu Tumbuh Sebagai Kunang-Kunang
Pelan pelan aku tumbuh sebagai kunang-kunang Isyarat musim tak mudah disangkal, Bi sebab hujan begitu sibuk bertiup di telingamu Menjatuhkan bertubi-tubi bisikan iblis juga syaiton nirojiim Dingin, Bi Biarkan dedaunan berpelukan pada tanah Sebab lengan kerinduan tak cukup lincah menghangatkan kita Seduh saja puisimu pada setangkai embun yang mampir di kaca Kaca yang hampir saja…
-
Destinasi Hidup
Hawa di lereng gamping mencurah hening Sepoi yang hampa Menyejuk atma yang mengalir di kelok kodrat Menepi di tepi resah, serah, kalah Taburilah bangkai itu dengan dedoa Di antara hidup dan mati ‘kan ada jalan meretas Kembali… Dalam reinkarnasi Serak belulang bergelut lagi di rahim ibu Kompromi dengan gumpal-gumpal daging dan darah
-
Cycle
We came in this world, alone Looking with own eyes Hearing with both ears Speaking through one’s lips We learn about world, together Cared by parents Laughing with brothers Sharing with sister We enjoy the world, with partners Spending times with friends Crying loud with comrades Fooling around with mates
-
Menimang Matahari Rembulan
Hari-hari yang menimang matahari rembulan telah lahir Dari rahim subuh yang membumbung di ufuk timur Menoreh celarat merah kekuningan Melukis batas cakrawala Hari-hari yang memeluk matahari rembulan mekar di antara dedaun rimbun Basah oleh embun yang tak pernah kering Dari rekam hidup dan penantian hati Menjelajah hari
-
Menerka Pintu-Pintu
Di pelupuk waktu yang hening dan jejak mata yang asing kutulis puisi maha yang tak tertera kata sebab engkaulah puisi yang mengisi ruang hujan, angin dan pori-pori dedaun jejak keterasingan aku terka lewat garis bibir yang menerpa sebuah desa
Puisi