Air atau Udara


“Daratan terlalu kejam!”, dia berkata
“Udara terlalu menyesakkan!”, dia mengaku
Maka berpelukanlah pada kami,
yang menyampaikan salam dari deburan ombak selatan
Membawa pergi kapalmu tiap malam dan
mengembalikannya di petang

Kami adalah yang teramah, ketika daratan
memukulmu dengan tangannya yang kasar
Kami hanya terlalu diam dan tenang, serta biru
Ya biru!
Riak kami menyanyikan lagu cinta untuk para kekasih
dengan kemerduan surga
Kami menyanjungmu untuk menemukan dunia baru
Yang lebih bersahaja, yang membawamu pada ketenangan dari dasar
Ketika kamu berfikir kamu sedang bermimpi, maka
jangan pernah bangun dari guyuran sejuk air kami

Matamu akan ditujukan pada sebuah pintu dengan keindahan bahari
Yang tidak dapat kamu tolak, kecuali kamu menangis
Seperti kembali ke rumah, seperti kamu telah
selamanya menari bersama ikan-ikan
Dan menciumi kulit mereka yang licin

Jadi mungkin kamu sudah ada di rumah, hanya
sejengkal di bawah kakimu, yang membuat tubuhmu basah dan mengambang
Jadi mungkin kamu sudah di rumah, bermalam dalam
batu karang yang meninabobokan
Dan kamu mendengar suara paus saling mencumbu,
dan lumba-lumba berteriak membangunkanmu

Dan kamu jatuh cinta lagi, dengan biru
Ya biru!
Yang menenangkan, yang melenakan kamu
Jadi kamu sudah benar-benar di rumah, dengan
desiran air yang masuk ke paru-parumu
Ketika daratan mulai memukulimu
Maka kamu bisa pulang,
bercerita pada dunia bawah lautmu
Hingga tertidur dengan kedamaian
Karena kamu hanya perlu berenang, bukan bernapas

Penulis: Mulia Sabrina

Poetry Prairie Literature Journal #4 “Narasi Dari Laut”


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s