///Curatele///

Temaram itu tiba dikawal pekatnya langit
Sinar semakin sirna nan kian memudar
Waktu pun berdetik semakin terburu-buru
Bersiap di balik pintu

Benarkah? Salahkah?
Barisan kata sederhana penggoyah paradigma
Pemantik dalam  tatanan kaya, elok
Kelana pun tak berujung

Candu mengintervensi jalan logika
Dogma mengunci gerbang nurani
arah menuju terminasi

Hanya tersisa satu langkah
Langkah terakhir menuju benderang
Di gerbang usia pengampuan
Bernaung dalam putih dan pengampunan

Penulis: Olia Girindra Sakti
Poetry Prairie Literature Journal #6

Advertisements

Kesekian Kaliku

Ribuan bahkan milyaran
Kecil, bahkan tersering besar sekalipun
Napsu yang menguasai raga hina ini
Hanya titik hitam, kala itu
Terbalut kian hitam, benda mulia itu
Saat ini..

Taubat seolah permainan jenaka
Yang bisa kuulangi setelah berbuat
Berbuat hal, yang Kau jadikan larangan.
Sering sekali dosa setelah taubat ku
Sehingga, terus sahaja berputar
Ya, seperti permainan
Yang aku, bisa bermain sesuka hati
Dengan taubat dan dosaku.

Padahal,
Aku tak perlu menunggu,
Menunggu tamparan-Mu
Tapi anehnya, seolah sengaja
Aku lebih menunggu
Tamparan, untuk sadarku
Sebelumnya padahal,
Sinyal peringatan-Mu terlihat
Jelas tak berkabut sedikit pun
Tapi aku, seolah mengkaburkan
Penglihatanku sendiri
Agar berpura-pura tak melihat.
Lewat aku, yang menjauhkan diri
Dari kebaikan dunia-Mu
Mereka, teman teman shalihku.

Padahal,
Kau menjadikan mereka penerang
Di saat, penerang terbesar di dunia pun
Tak dapat menerangi jalan gelapku.

Pikirku, lenyap sudah kesempatanku
Dari ketenanganku yang kurindu
Karena, lama tak kurasakan
Akibat penyia-nyiaanku.
Kasih sayang-Mu, buatku tenang.
Nyatanya, Sang Penyayang masih sahaja
Memberiku biliunan penenang
Bahkan hitungan itu jauh sekali
Dengan apa yang aku rasakan.

Sehingga kini,
Dia membukakan pintu-Nya
Yang kala itu sempat aku,
Menutupnya rapat rapat.
Berlian yang kutahan untuk mengalir
Dengan mandiri mengalir
Tak dapat terbendung,
Tumpah ruahlah sudah
Dengan kalimat sederhana
Namun mulia luar biasa
Ribuan bahkan milyaran
Kecil, bahkan tersering besar sekalipun
Napsu yang menguasai raga hina ini
Hanya titik hitam, kala itu
Terbalut kian hitam, benda mulia itu
Saat ini..

Taubat seolah permainan jenaka
Yang bisa kuulangi setelah berbuat
Berbuat hal, yang Kau jadikan larangan.
Sering sekali dosa setelah taubat ku
Sehingga, terus sahaja berputar
Ya, seperti permainan
Yang aku, bisa bermain sesuka hati
Dengan taubat dan dosaku.

Padahal,
Aku tak perlu menunggu,
Menunggu tamparan-Mu
Tapi anehnya, seolah sengaja
Aku lebih menunggu
Tamparan, untuk sadarku
Sebelumnya padahal,
Sinyal peringatan-Mu terlihat
Jelas tak berkabut sedikit pun
Tapi aku, seolah mengkaburkan
Penglihatanku sendiri
Agar berpura-pura tak melihat.
Lewat aku, yang menjauhkan diri
Dari kebaikan dunia-Mu
Mereka, teman teman shalihku.

Padahal,
Kau menjadikan mereka penerang
Di saat, penerang terbesar di dunia pun
Tak dapat menerangi jalan gelapku.

Pikirku, lenyap sudah kesempatanku
Dari ketenanganku yang kurindu
Karena, lama tak kurasakan
Akibat penyia-nyiaanku.
Kasih sayang-Mu, buatku tenang.
Nyatanya, Sang Penyayang masih sahaja
Memberiku biliunan penenang
Bahkan hitungan itu jauh sekali
Dengan apa yang aku rasakan.

Sehingga kini,
Dia membukakan pintu-Nya
Yang kala itu sempat aku,
Menutupnya rapat rapat.
Berlian yang kutahan untuk mengalir
Dengan mandiri mengalir
Tak dapat terbendung,
Tumpah ruahlah sudah
Dengan kalimat sederhana
Namun mulia luar biasa
Keluar dari lisan hina.
Rabbighfirlii..

Penulis: Yaizha Zannuba Fatimah
Poetry Prairie Literature Journal #6

Mengukir Tembok Beton

Berpaling dari angan
Dengan darah hati menanti
Menuruti paksaan karena tersakiti
Layaknya bulan menandingi matahari

Kelopak mawarpun berguguran
Karena awan melawan hujan
Bak kertas mematahkan goresan hitam
Dengan penuh penyesalan

Kabut telah menanti
Namun, darah putih datang membasahi pipi
Dengan menatap buta
Menyadari kesalahan yang membara

Kurela…
Meretakkan semua yang berlalu
Tuk membuang gumpalan penyesalan
Dan kembali pada Tuhanku Yang Satu

Kurajut embun yang berlalu
Menyulap pelan rintihan terdalam
Yang tuli dalam keadaan, dan,
Mengubah penyesalan menjadi pengampunan

Penulis: Sisca Aliatuliyah Cica
Poetry Prairie Literature Journal #6

Gelabah Malam

Bumi yang merupa kehidupan profan
Seharusnya tidak menjadikan malam pongah dengan menindih siang
Begitu juga dengan dua manusia telanjang yang mengupas keduniawian
Besar rasanya, seharusnya menghayati alasan penciptaan
Perempuan yang yoni dalam rupa lumpang, sabar menjadi sumber kehidupan
Disandingkan dengan lelaki yang disangga
Tertoteh begitu saja tanpa surat nikah
Juga dalam sejarah catatan fana
Keduanya, tidak suci lagi sebagai makhluk Tuhan
Begitulah, tatanama distorsi manusia
Semua sudah pada takarannya
Tak perlu meronta kekeringan
Tak perlu pula meronta kedinginan

Lalu, bagaimana tata cara islah dengan Tuhan?
Hanya tata hati yang solak dan ikhlas menyerahkan diri kepada Tuhan
Yang akan menggenggam marwahnya surga Tuhan.

Penulis: Siti Lilatus Sa’adah
Poetry Prairie Literature Journal #6

Terperangkap

kudengar debur jantung berdebar
menahan denyar renjana liar
yang menawarkan rinai kenikmatan

kusadar tatapan mata telah berubah nanar
memendam gusar diri yang pandir
terbujuk oleh jebakan kesesatan

kini aku benar-benar terkapar
terbius ranum bibir para lacur
yang tak jemu melena khayalan

sampai kapan hal ini akan terbiar?
sedang jiwaku kian menggelepar
terkubang dalam lumpur perangkap syetan

kini satu asa kuteguhkan wahai Dzat Yang Mahabesar
ijinkan aku berenang di kejernihan telaga ampunan-Mu

Jember, 2015


Penulis: Sami’an Adib
Poetry Prairie Literature Journal #6

Malam Panjang Pengampunan

Di kota ini pengampunan itu serupa pengemis jalanan
Menggigil bertangkup udara munafik menjengkali malam-malam di musim dingin
Wajahnya kotor dijelagai kesinisan
Pakaiannya compang-camping disobek kebohongan

Oh lupakan saja rasa bersalah!!!
Malam masih panjang, dia sedang tidur nyenyak
Di pelukan hangat perapian di rumah pengerat berdasi
Dimana penyesalan???
Ia duduk di belakang meja sibuk memotong pajak dari pajak rumah jelata

Kau mesti paham!!! dalam hingar bingar ini metropolitan
Kekuasaan adalah palu keadilan uang adalah raja jalanan
Siapa itu pengampunan??
Sudi dipeluk bila maut sudah meremas kerongkongan

Malam masih panjang, esok pagi belum tentu
Pengampunan meringisi kaki telanjangnya yang melepuh
Merajah aspal bertuah sisa janji-janji berdebu
Dimana lagi di kota ini pintu yang belum ia ketuk agar penebusan bisa diasuh

Di kota ini, pengampunan sebatang kara
Tak lagi bersanak saudara, tak ada yang sudi lagi jadi temannya
Ia diasingkan dari perindunya, dicampakkan kekasihnya
Tapi ia menolak mengemis pada putus asa

Ia mencintai kota ini, biar saja ia disapu jalanan
Akan ia hangatkan dirinya dmeringkuk di kursi taman dengan korek apinya disisa malam,
Ia juga masih memiliki kenangan remah roti sisa semalam
Agar gemerincing perutnya bisa kenyang dalam impian

Selamat malam kotaku, semoga malammu masih panjang…
Sehingga kau bisa memiliki kesempatan dapat menemui sang pengampunan
Yang masih meringkuk di kursi taman dengan kesedihan yang tersedu sedan
Selamat malam kotaku, semoga penebusan masih sudi datang sebelum pagi menjelang…

Penulis: Shella Anggreni
Poetry Prairie Literature Journal #6

Aku Akan Pulang, Tuhan

Senja menyapaku dengan tatapan nanar, layaknya menunggu untuk segera pulang. Sejauh ini, Aku telah menjalani langkah yang terseok-seok sampai hari ini, Aku pernah mencintai dan meletakkan harapan yang tak sejalan dengan kenyataan.

Dalam sunyinya malam, semesta selalu saja membuatku lemah tak berdaya. Mengungkap semua rasa, suka duka mencintai dan berharap tanpa balas. Aku menyukai kebersamaan bersamaNya setiap malam. Dengan deruan air mata dalam sujud, kupinta Semesta memaafkanku dan tidak membenciku.

Aku memang bersalah, memulai sebuah cinta yang pada akhirnya mengalihkan keutuhan cintaku padaNya. Aku tahu, Tuhan merindukanku. Dia menanggalkan sebuah sayatan bahkan tusukan sebagai peringatan bagiku.

Pengingat untuk kembali, dan memohon maaf padaNya. Dia mengingatkan bahwa perkara mencintai bukan berarti memiliki seutuhnya yang bukan miik kita.

Kiranya, Tuhan pasti marah dan mengutukku agar tak berbahagia pada akhirnya. Dia memintaku untuk kembali pulang dan memelukNya, karena hanya cintaNya yang mampu membahagiakanku selamanya.

Aku telah alpa akan cintaNya. Aku memohon maaf padaMu, Tuhan.

Aku memohon maaf atas kealpaanku mencintainya lebih dari mencintaiMu.

Perkenankan aku untuk memperoleh kesempatan terakhir membuka lembaran baru sebelum waktunya aku pulang dalam pelukanMu. Akan aku persembahkan cintaku sepenuhnya padaMu, karena Kau satu-satunya yang mencintaiku lebih dari perluku dan lebih dari yang kutahu. Inilah waktuku kembali.

Aku akan pulang, Tuhan.

Jakarta, 12 Juli 2017

Penulis: Salsabila Fitriana
Poetry Prairie Literature Journal #6

Hijrah Sang Penghina

Saat semesta tak menganggap
Saat olok merendahkan
Saat diri tak lagi bertemu bahagia

Apakah sang pengatur semesta melupakan?
Apakah sang pemberi suara membentak?
Apakah sang pemberi bahagia sedang berbahagia?

Dia selalu ingat
Dia hanya menegur
Walau Dia sangat marah

Tak pernahkah terbesit khilaf?
Tak pernahkah terbesit rindu?
Sadarkah?
Dia rindu akan rintihmu
Dia rindu tangis saat kau ingat diri-Nya
Dia rindu hati yang tak pernah menduakan-Nya

Bersama sayup-sayup merdu
Mencoba tata jiwa yang tlah tak terarah
Bersama sapuan air nan segar
Mencoba bersihkan masa hitam yang melebur

Dia tahu hati yang benar-benar hati
Dia sang pemilik hati…
Tak pernah terbesit dendam
Walau kepada para penghina
Yang belum mengenal sadar

Lalu apakah kita berpura-pura tidak tahu?
Saat sinar dari segala khilaf tlah datang
Ingatlah…
Sinar kesempatan
Tak akan selamanya benderang

Penulis: Rizky Pradipta Anomsari
Poetry Prairie Literature Journal #6

Dosa

Kini aku menghitung dosa seakan-akan
menghitung titik-titik hujan
Namun dosa-dosaku tak akan menguap karena panas
Menghilang karena angin
Aku membiarkan garis-garis kehidupan
Menginjak harga diriku
Hari-hari kelam bagai bayanganku
Mengejar kemanapun aku berlari
Semakin cerah tujuanku
Semakin besar bayang-bayangku

Mungkin aku lalai dalam berdoa
Aku kalap dalam bersyukur
Malam ini aku benar-benar menangis
Tangan lemahku menengadah terhadap-Mu
Aku tak bisa memilih irama dalam doa
Yang kutahu hanya Engkau-lah saja
Aku harap kau membalas
Entah nyawa yang harus kubayar

Yang kuinginkan hari ini
Doa dan syukurku, menjadi penghantarku
Entah dunia kelam atau baik yang kudatangi

Penulis: Rama Adi
Poetry Prairie Literature Journal #6

Terlambat

Sepasang tangan penuh luka sayatan
Penuh darah bergelimangan
Memegang ikatan tali derita
Bak sebuah sayap yang enggan lepas dari rantai masa lalu

Terlalu lama bersarang
Terlalu pekat untuk dibasuh
Terlalu sesak menyusup ingatan
Terlalu banyak melahirkan air mata

Matahari berkilauan di sudut senja
Meninggalkan semburat jingga menggelegak
Diiringi Air laut yang memantulkan pengharapan
Akan sebuah pengampunan

Seakan mustahil diterima raga yang bermandikan perih derita
Seakan tak sudi telinga itu mendengarnya
Suara bising isak tangis penyesalan berhamburan bak bintang di langit malam
Penyesalan dalam gemuruh menyeruak memaksa mendiami otak dan hati

Tapi sayang telinga ini telah tertutup darah kepedihan
Hati ini telah membisu diam mematikan kalbu
Mata ini telah menutup kokoh
Nafas ini telah berubah bagai jelaga api yang membakar kertas
Kertas yang berisikan kata maaf

Penulis: Qatrunnada Mochlis
Poetry Prairie Literature Journal #6