Semesta Sunyi

Tak cukup tangis iba tuk tutup nganga luka
Tak butuh cecar kata tuk ungkap duka lara
Karena perpisahan selalu tinggalkan cenderamata
Kesunyian yang meluapluap

Senjamu tlah hadir di tengah derasnya hujan
Lalu kau pergi sisakan bayangan punggung yang kian pudar
Cukup sampai di sini
Aku kan mendiam
Dan memeluk sunyi

Bukanlah apa dirimu yang bergiat di garisgaris hujan lebat
Meneriakiku tuk terus berkejaran waktu
Ah badai masih terus berdatangan
Dan kau sambil terisak layu, meninggalkan kesunyian yang dalam

Jurang gelap tlah tergali lama di dadaku
Kau tak kan bisa menggalinya lebih dalam lagi
Tidak! Kau bahkan tak pernah mencapai dasarnya
Dan dirimu hanya berikan gaung dalam ruang hampa
Menajamkan indera, membutakan rasa
Mewariskan sunyi yang begitu mendera

Maret, 2017

Poetry Prairie Literature Journal #5
Penulis: Ayu Qonita

Advertisements

Laguna Barat

Aku tetapkan tasbihku di laguna barat berhadapan bias cakrawala
Puisi yang kulukis makin terasa sepi, digulung harapan yang tak puas diharap
Perjalanan hidup yang melaksa jiwa tak pernah usai bahkan lebih menjadi-jadi
Hingga terngiang, terkapar rautku menatap tubuh yang kian asing disentuh
Tubuh yang dulu menemani berjalan hingga ujung lembah lain tertuntaskan

Tubuh yang terbalut dengan jingganya senja,
terpantulkan bintang-bintang galaksi Andromeda
Menjadikan hari-hari di jalanku kian terasa sendiri,
sampai detak waktu arloji menggaung keras melebihi hati

Dari lembah hari ini, aku hanya dapat menerka hujan datang,
menghitung setiap butir, menyentuh dan menggenggam
Apakah di setiap tikunganku noda dan rindu selalu sama?

Laguna tepian barat terlihat tertawa dengan sorbannya berlembayung senja
Senyuman indah kubuat lekat-lekat terpampang di urat wajah,
bersembunyi dalam duka kesendirian
Namun, jika hujan tak basah digenggam,
bintang tak indah dipandang, tubuh pun akhirnya tak lagi merasakan artinya kehadiran
Seakan-akan sudah bakatnya membuat tangis yang tak bisa diajak berbincang
Pada waktunya, tanpa ucap tubuh pergi menyisakan jejak berpaut aroma basah hujan

Laguna sebelah barat mengisyaratkan perjuangan
Dalam hentakan setiap perjalanan atau hitungan hirup udara yang dihempas hembuskan
Selayaknya, memaklumi tubuh yang meninggalkan, menguatkan hati yang ditinggalkan
Hingga perjalanan itu semakin sunyi, dan laguna barat tinggallah mimpi 

13 Februari 2017
(Something Left Unspoken)


Poetry Prairie Literature Journal #5
Penulis: Amalina Dwi P

Labirin Sukma

Nyanyian langit menderu
Bersama derai air mata rindu
Perlahan menapaki padang nan gersang
Berjalan mengitari ladang nan usang

Sungai pun mengalir
Bersama semilir nafas berdesir
Jamuan hilir menyambut tetes-tetes suci
Seiring malam panjang mencari pusara Ilahi

Air luapkan sejuta emosi
Menyulut ombak kian menari-nari
Aku, menghempas segala Doa antara pekatnya temaram
Memaksa Sang Maha panahkan cinta yang mendalam

Aku berjalan sendiri dipandu pendar mentari dan purnama
Jelajahi pusara cinta kasih Sang Maha
Hingga mataku sayu mencari-cari rindu
Terlelap diantara lubuk Dosa dan segala penat kalbu

Dinginnya rindu mulai melaba
Bagai jiwa yang dicampakkan oleh rasa
Takut, harap mengitari seluk-beluk jiwaku
Sunyi, berlari dari waktu ke waktu

Poetry Prairie Literature Journal #5
Penulis: Ali Husein Assegaf

Melankolia Sunyi

I
malam meranumkan bintang;
mengutus pijar cahaya menjelma kabut —
mendekapku:
sebagai aura rindu
yang gigil

Banjarmasin, 1 Oktober 2015

II
selalu,
menunggu waktu mendermagakan tubuhmu
di perempatan ini
aku gariskan resah di atas trotoar beku
sementara portal jalan masih tertutup
dan jumper yang kini kukenakan serupa dingin malam;
malam yang menghembuskan sunyi rembulan
pada halte penantianku

Banjarmasin, Lupa – November 2015

III
sehelai karcis
melayang dalam asap knalpot
— di situ tertera airmataku yang kadaluarsa
di balik jendela bus kota
gerimis begitu tekun
menghapus jengkal dahaga
dan jejak-jejak sepatu
yang kian usang menyinggahi kenangan
dalam gps doaku
bayangmu masih teralamat
pada hamparan kabut
pada purnama kalut
di cakrawala
— ah, kan kudekap pendar sunyimu
1.000.000 km/jam bus ini melaju!

– Banjarmasin, 4 Agustus 2016

Poetry Prairie Literature Journal #5
Penulis: Ahmad Fauzi

Dalam Asing Perjalanan

malam penaka jaring laba-laba
yang dirajut angin gerimis
begitu pekat memeram pengap
lentera-lentera telah padam
kini hanya liku-liku jalan tanpa tanda
langkahku kian patah dililit belukar dan ular
belum kudengar jua mazmur pantingmu*
yang padanya tersirat petuah arah
serupa sabda cahaya yang melesat dari doa ibu
sedang di ruas rimba malam kian gelita
penaka jaring laba-laba, tubuhku terjerat
pengap embun dan kabut memberat
dalam asing perjalanan kuraba kesunyian
gigil angin hanya meniupkan resah cuaca
mengusap letihku tanpa dawai nyanyian

– Banjarmasin, 21 September 2016 –


*Panting: alat musik tradisional dari suku Banjar di Kalimantan Selatan. Bentuknya seperti gambus Arab namun berukuran lebih kecil.

Poetry Prairie Literature Journal #5
Penulis: Ahmad Fauzi

Zikir Kesunyian

aku bersembunyi di balik kabut baris-baris puisi
zikirku seribu sunyi mengejarmu
dalam gelap ruang semadi
di antara erangan dan jeritanku yang terpendam

aku hanya ingin memahami isyarat kegelapan
yang telah mengiringi langkahku
namun mataku selalu perih setiap melafazkan namamu
adakah yang salah dari penglihatanku yang nanar
dan tumbuh menjadi nyanyian kelakar

musim panas membakar kata-kataku
yang menjadikannya abu dan lelatu
lalu menyeretku ke wilayah tak dikenal
dunia tak terjangkau lidahku
hingga teriakanku lenyap dalam regukan besar waktu
seperti embun yang terserap cahaya pagi

dunia di luar kata-kata
dan nyanyian tak menyuarakan apapun
tapi zikirku terus mengalir padamu
menjenguk setiap puing-puing kesunyian di bukit
kotamu.
menyusuri terowongan-terowongan panjang waktu
yang menelanku hingga tenggorokanku terbakar sunyi

aku memintal lagu sepanjang lorong rahasiamu
untuk kunyalakan dalam jiwa
tanganku meraba ayat-ayat
tapi setiap kunaiki tangga ke langit terjauh
aku selalu ditenggelamkan cahayamu

aku letih menjengkal kesamaranmu
dan zikirku adalah zikir kesunyian

Kediri, 12 Mei 2016

Poetry Prairie Literature Journal #5
Penulis: Aharys Koeartz

Pinta Untuk Sebuah Akhir

Dekatkan kubur itu
Dekatkan ke rahim ibu
Agar aku anakmu
Bisa merasakan
Sakit lahir dan sakit mati
Aku yang terjerembab
Mengukir luka
Mengkhayal senyum
Hanya mengusap daun kenistaan
Sementara bual kemunafikan
Terpatri abadi di jiwa
Oleh jemari lembut sang peri kecil
Dekatkan kubur itu
Dekatkan pada rahim ibu
Agar aku putramu
Selamanya tahu

Kasih orang tua dan kasih Tuhanku

Poetry Prairie Literature Journal #5
Penulis: Ade Ega Vernanda

Atas Nama Sunyi

Atas nama sunyi
Berendam dalam kesendirian
Kehilangan kian terasa
Memeluk bayangan silam
Hanya kosong tak tersentuh
Raga itu terpisah jarak
Bersandar di pelukan lain

Atas nama sunyi
Berapa lama seperti ini
Memandang setiap kenangan
Berpencar senyuman di kepala
Mata lahir seolah melihatnya
Menyebar di segala sudut
Lalu hilang ditelan kesadaran

Atas nama sunyi
Puisi menjadi tak berisi
Langit tak berpelangi
Awan menjauh pergi
Semua tak lagi di sini
Hampa mendalam di hati
Sulit menghapus semua ini

Atas nama sunyi
Hari baru dimulai lagi
Berharap segera terobati
Tak secepat itu terganti
Senyuman itu tertanam di sini
Tumbuh lebat dalam diri
Tersadar kini semua menjadi berarti

Malang, 30 Januari 2017

Poetry Prairie Literature Journal #5
Penulis: Aan Handian

Kasidah Kematian

bersama malam aku terus mengayuh sampan
kekekalan
melewati pelayaran demi pelayaran
melampaui pendakian demi pendakian
mengimani sembahyang demi sembahyang

kata-kata mengalir dari setiap desah napas
tahajudku
zikir bibir hanyut
dalam rukuk dan sujudku

mataku buta oleh tangis seratus tahun
darah dan airmata
dalam gairah musim
keheningan fajar lukisanku menggali cahaya
menyulut sumbu waktu warna-warna
yang disemburkan kedalaman batu
dan tarianmu adalah keheningan subuh
yang dipadatkan dekapan rindu membusuk

sungguh ingin kulekatkan gairahku
pada perangkap kesementaraan
seperti adegan-adegan pertobatan
sepanjang dinding kekekalan
mungkin tak akan pernah mengubah arah sunyi
hingga aku kembali menjadi debu
tak perlu cemas pada hari-hari yang menyusut
kematian hanyalah bagian dari waktu

dalam gairah waktu akan kusembahyangkan kematian batu batu

Kediri, 20 Juni 2016
~Aharys Koeartz~

Sebuah Pertemuan

 

pada garba perempuan yang sama

kita pernah menilasi misteri

perjalanan paling ilahi

tanpa peta

tapi tak pernah tersesat ke alamat asing

di kota lain kita kembali berjumpa

berbagi kisah

lembut suaramu mengingatkanku

pada kenangan masa kanak-kanak dahulu:

damai ini telah lama kurindu

sejak di pangkuan ibu

ketika lidah keluku

tak fasih-fasih mengeja alif lam ra

dan langkah goyahku masih tertatih

menyibak debu

meretas lorong rindu

menuju keanggunan-Nya


aku hanya tersenyum hambar

menyembunyikan parau suara

yang terkoyak oleh busa-busa dosa pesta pora

sebelum berpisah

biarkan bisikan lirihku

menjadi rubaiat pengantar perjalanan pulangmu:

ajari aku cara bercumbu

agar aku

bisa mereguk candu

Cinta-Nya

Yang Paling Sempurna


~Sami’an Adib~