//Garis Samar//

I.

Garis merah di sudut jari kanan bibirmu
Bagai senja yang terburu-buru bersolek
sebelum hujan turun sore itu.

Kau paksakan samudera ke dalam warna sepatumu
yang aku dapat bercermin kepadanya—ganjil, aneh, janggal.

II.

Kau mencoba mengukir kisah kasih di atas kertas,
namun sayang, tintamu habis
sebelum namaku usai kau tulis setelah namamu

Dan cahaya lilin yang kian redup
membawa bayanganku semakin jauh, jauh, jauh.

III.

Gitar tuamu, mengadu padaku
bahwa sejatinya kau begitu menyukai lagu pemberian dariku

Hingga kau gemakan nadanya berulang-ulang,
dan, akhirnya sumbang di tepi kenang

IV.

Sayangku, sesungguhnya aku sudah tidak mencintaimu
dan ingin berumah dengan yang lain
Namun pintuku masih terbuka untukmu jika hendak bersua
Kali lain, mari kita berdansa di atas laut biru, di bawah kemilau senja,
membukukan kisah untuk cucu kita, juga menyanyikan asmara yang takkan kedaluarsa.

-jika, aku masih mengingatmu

Penulis: Julia DK

Advertisements

Menulis Kerinduan

Hujan adalah kutukan,
Karena rindu tak pernah terbantahkan…

Malam tak pernah bisa diam. Rindu yang tak dipertemukan, dari mimpi yang tak bisa diramalkan.

Sisa kepingan malam yang kusimpan di saku celanaku kini hilang. Setelah kuselidiki dia kembali bertengger di atas, menemani bulan yang lalu lalang sembari mengutuki bintang-bintang memunguti pecahan waktu.

; karena sisa untuk bertemu semakin tipis, membuat nafas kembang kempis.

20:22

Setelah mendengar kesahmu, tubuh bergetar dan rindu semakin menyasar.

(Gusar yang sejak tadi kutampar, telah membalasku dengan kasar dan hujaman teramat pijar)

Mencecapi suara kanak-kanak teriak. Sejenak aku mengerti. Bahwa bahagia tak melulu tentang ini dan itu. Cukup menyantap senyum yang ayu serta candamu yang mengubah kelabu menjadi sajak utuh.

(Merindukanmu adalah kata yang tak pernah habis kutuliskan. Dan yang kutahu obat rindu adalah sebuah pelukan)

Malam legam, Mei 2018

Penulis: Beny Syah

Gadis Kecil Tanpa Nyawa Ayah Bunda

Kau lihat bola bening matanya
Mengalir jernih bulir-bulir lara
Karena darinya sumber mata air air mata

Kau lihat langkahnya
Menapak kerikil tajam tanpa alas dari Ayah dari Bunda
Hingga tertinggal jejak-jejak kerikil di kakinya

Kau lihat mukanya
Tertutup kabut kelabu hitam dalam
Guratan asa tergambar di pipi kanan kirinya
Membuat kusam panorama pandang melihatnya

Diraihnya buah dari dahan yang rendah
Tapi bukan kepunyaan Ayah Bundanya
Adalah hari depannya yang kan selalu mengepung
Karena telah dipermainkan jari nasib dengan curang
Sehingga ia terasing dari kasih sayang
Terasing dari keharmonisan
Terdampar di tepian terhindar

Apa lagi yang tinggal
Gadis itu bertanya
Tak mungkin mencoba pertahankan
Hempasan badai dengan seutas benang, mana dapat

Rumahku roboh olehnya
Atap-atapnya tak mampu menaungi kepercayaan
Dinding-dinding pelindung hancur
Tiang penyangga keropos rata juga dengan tanah
Kini semuanya dianggapnya riwayat
Mencoba mengabaikan bisik risih dalam jiwa
Gadis itu terus melangkah jalan
Meski dia tahu tidak semua menuju ke arah taman

Penulis: Amalia Nur Fajriyati

Puan

Cahaya melahirkan bayang: origami hitam yang diseret seorang perempuan sepanjang trotoar yang ditumbuhi tiang lampu, deret bangku panjang, dan pohon oak yang memanen senja kelabu suatu petang

Sungai melukiskan wajah seorang hawa yang tengah berdiri mematung di pinggir jembatan dengan isak yang ia coba titipkan kepada rinai air dan aroma mendung gigil

Hening mengikal di sekujur langit, malam datang dalam hujan berkesudahan sebelum bayang yang melangkah tunduk berbisik kepada puannya agar menyihir lukisan yang dipahat sungai menjadi sepotong cermin retak yang dicoraki riak dan tubuh perempuan

Penulis: Orkestra Bisu

Menahkodai Purnama

Aku hanya mengandalkan cahaya temaram senja di tepian pantai
untuk menulis sebuah puisi yang terlahir dari kegelapan
sebatang bakau dengan abunya yang menyala
menjadi penerang setiap kata

Tiada gulungan ombak juga desir angin
yang mampu menakutiku
semua terasa tenang
ketika lampu-lampu perahu menemani kesunyianku
aku tak peduli jika saja ombak mau membawaku ke pelatarannya
meskipun aku harus mati nantinya
namun dengan syarat
izinkan aku menahkodai purnama
walaupun terombang-ambing oleh gugusan awan

Dan aku ingin berteriak sekeras mungkin
di pantai selatan ini
melepas segala gundahku
hingga senja itu hilang ditelan kegelapan
dan aku ingin benar-benar layak menjadi raja
pada bintang-bintang yang termangu
menatap layar kaca mataku yang buram

Di jendela langit ada samudra
yang mengajak nyawaku berlayar di sana
padahal kakiku masih dibalut pasir-pasir
mustahil aku mampu melunaskan hasratnya
tapi sebuah perjuangan tidak berakhir di sini
aku tetap melangkah menyusuri lorong waktu
mencari jejak-jejak buih yang terdampar
di keasingan hatimu yang pasang-surut
sampai kursi senja mempersilahkan kita
untuk duduk bersama
menatap senja yang kembali bereinkarnasi
memikat roh pada langit di kiblat jiwamu
hingga laut membentuk surat dan perjanjian
mengabarkannya pada ikan dan terumbu karang
seraya berdo’a
memohon kepada Tuhan
untuk berkenan merestui
pernikahan keabadian purnama
di atas kapal yang dinahkodai oleh cinta

Semoga layaklah aku menjadi saksinya

Pantai Jetis, 2018

Penulis: Estu Ismoyo Aji

Akar Tunggang

Layakkah aku
menjadi akar tunggang
yang hidup tenang di matamu
mencari sisa fosil-fosil mikro organisme
tanpa air matamu yang menyuburi tanahnya
kau sering mengubah musim dan jarak
di saat sebuah cinta mulai bermimpi
meleburkan kisah rindu abadi
hingga aku boleh berkata :
layakkah seorang aku

Dan jika musim perkawinan pelangi tiba
kabarkan padaku dengan segera
aku ingin mengikrarkan janji
pada tujuh warna-warnanya
bahwa aku bahagia
melihat tonggak kayu
kembali berseri di wajahnya
yang membawa sari-sari makanan
untuk disajikannya kepada putri daun
dalam proses fotosintesisnya kepada dunia
hingga aku mampu layak menjadi akar tunggang
yang bersemi penuh kewangian di jasad dan jiwamu

Purworejo, Sabtu, 21 April 2018, 00:50 WIB

Penulis: Estu Ismoyo Aji