Sukma Peresih

anak-anak menyanyikan matahari # di bawah remang langit mimpi

dilukisnya jalan-jalan surgawi # dengan obor putih menyala di hati

dan orang dewasa adalah pandu # memancangkan warna-warni rambu
menggelar jalan-jalan berliku # dengan arah yang bercabang seribu

tapi anak-anak tak mengerti arah # ditandainya rambu-rambu yang salah
dengan nyanyi riang tanpa gelisah # mereka menuju rute musibah
jembatan berduri di atas jurang # papan lapuknya berhias lubang
di kegelapan talinya membentang # malaikat maut mengintai garang

kaki mereka pun terjepit duri # nyanyi mereka terhimpit nyeri
tak lagi melantunkan matahari # selain airmata setajam belati

ada juga yang terperosok gugur # di dasar jurang tubuhnya hancur
simfoni matahari pun melebur # berpadu gelap menjadi lumpur

dalam luka sukmanya tersisih # naik ke langit meniti perih
di gigil angin langkahnya tertatih # digiring badai ke surga peresih

Banjarmasin, 25 Agustus 2016


Nur Ahmad Fauzi FM, lahir di Banjarmasin pada 28 Juni 1999. Bersekolah di SMA Negeri 1 Banjarmasin. Dapat dihubungi via facebook: Ahmad Fauzy Mwam Falilv.

“Semoga anak-anak Indonesia dapat melukis senyum seindah bianglala, dapat meniti jalan-jalan yang berujung pada surga. Semoga mereka dapat menulis bunga pada buku harian mereka, bukan duri. Semoga mereka dapat membuat gugusan pelita dari doa-doa yang mereka sulut dengan jari-jemari asa; pelita-pelita yang dapat menyigi gulita pada negeri yang terluka moralnya.
Amin!”

Advertisements

Berita Bayi Mati

hari kemarin ada bayi mati, berlaksa bayi mati
tergilas lalulintas tertimpa air bah terbakar lahar tertikam wabah
terbencana di desa di kota di jurang di lembah berduri

hari ini ada lagi bayi mati, berlaksa bayi mati
di ruang aborsi dieksekusi ibunya sendiri sebab bapak biologisnya
berlari sembunyi dikejar hantu yang muncul dari benak sendiri
di ruang pengap sebab dirudapaksa kakeknya disodomi gurunya
disekap mulutnya dihapus namanya dijadikan komoditi
masadepannya dikebiri masalalunya dikubur paksa
tetapi tak ada lagi yang menangisinya

orangorang kehilangan belas, airmatanya tuntas
terpanggang kemarau keras
negeri apakah ini, tanya satu sukma bayi pada matahari
kenapa tragedi demi tragedi terus terjadi?
– tanpa jawab yang pasti

esok hari masih ada bayi mati, berlaksa bayi mati
di subuh hari karena asap polusi karena ngisap narkoba karena
nenggak sianida karena teror bom karena kurang gizi
karena vaksin bloon karena radiasi ai-ti karena virus drakula
karena teror selfi karena patah-arang bunuhdiri

orangorang kehilangan nyali, nadi-aortanya mati
tertindih ketakpedulian diri
zaman apakah kini, tanya sukma bayi lain pada rembulan
kenapa misteri kejadian di jagat ini semakin edan?
– tanpa kepastian jawaban

tibatiba bangkit berlaksa bayi yang mati tanpa nama
menggali lianglahat lalu mengubur sendiri mayat mereka
beramairamai di halaman depan istana negara!

2016, bumi bagelen


—–

Poetry For Life (Diperpanjang: 30 Agustus 2016)

“dimana manusia
ketika anak-anak menjadi korban nafsu
yang bersemayam di selangkangan
menderu-deru, berseru-seru
menuntut pemuasan
darahnya bergejolak, ekstase murahan
melihat wajah bening ternista
mani-mani bermuncratan
menghanguskan harga diri, darah dan 
nyawa manusia”

Tema Poetry for Life 2016:
“Dunia Rapuh Anak-Anak”.

Beberapa waktu terakhir ini berita kekerasan terhadap anak-anak kian banyak bermunculan. Lebih miris lagi adalah kasus-kasus di luar nalar seperti pemerkosaan dan pembunuhan dengan cara keji terhadap anak-anak. Anak-anak seharusnya adalah lambang kesucian dan kemurnian jiwa. Setiap manusia pasti tersentuh hatinya melihat keluguan anak-anak, pasti timbul kasihnya pada makhluk titipan Tuhan ini. Karena itu siapapun yang sanggup menyakiti anak-anak, bahkan tega berbuat keji, pantas dipertanyakan sungguhkah ia seorang manusia?

Program Poetry for Life kali ini diadakan untuk mengajak masyarakat kembali merenungkan mengapa kekerasan pada anak masih terjadi, bahkan dalam bentuk-bentuk yang semakin keji. Mengapa dunia anak-anak ternyata sangat rapuh dan rentan terhadap kekerasan. Mari tunjukkan sikap. Segala penindasan kepada anak-anak harus ditolak, serukan cinta kasih agar dunia anak-anak kembali berwarna.

Mulailah dari diri sendiri untuk menyadari betapa pentingnya anak-anak bagi masa depan. Rasakan segala cinta dan luka yang harus dialami anak-anak ini. Tuangkan segala kisah inspiratif, rasa cinta dan empati, semangat melindungi atau bahkan harapan untuk kebahagiaan anak-anak ini. Maka sambil berdoa demi masa depan anak-anak bangsa, menulislah sekarang! Menulislah untuk membuka hati kita, menumbuhkan cinta kita dan selalu terjemahkanlah di dunia nyata. Anak-anak harus dicintai dan dijaga dengan segenap hati.

III. Syarat dan Ketentuan

– Satu penulis diperbolehkan mengirim 2 puisi 
– Bentuk puisi bebas.
– Diketik dalam file Microsoft Word, A4, Font Times New Roman 12, spasi 1.5
– Panjang puisi maks. 3 halaman
– Sertakan biodata narasi singkat di lembar terakhir. Dan boleh juga tambahkan doa dan harapan bagi anak-anak Indonesia (maksimal 100 kata)
– Cantumkan nama asli lengkap dan alamat lengkap untuk pengiriman hadiah buku. Usahakan selengkap mungkin agar tidak terjadi kesalahan pengiriman.

Cara Pendaftaran:
– Membayar biaya pendaftaran sebesar Rp 60.000,- 
– Melakukan transfer ke rekening Bank Mandiri No. 1320014920103 atas nama Mulyana
– File karya dan bukti transfer dikirim melalui email ke poetryprairie@yahoo.com
(Subject: PFL – Nama Penulis)
– Batas akhir pendaftaran dan pengiriman karya adalah 30 Agustus 2016

Catatan:
Apabila puisi yang terpilih memenuhi syarat dari segi kualitas dan kuantitas, maka direncanakan akan diterbitkan menjadi sebuah buku Antologi Puisi.

Apresiasi:

Seluruh peserta mendapatkan:

  • e-sertifikat peserta
  • 1 paket buku (antologi puisi/cerpen/novel)

Pemenang I:

  • Uang tunai Rp 1.000.000,-
  • 1 buku Antologi Puisi
  • e-Book Antologi Puisi
  • e-sertifikat pemenang

Pemenang II:

  • Uang tunai Rp 500.000,-
  • 1 buku Antologi Puisi
  • e-Book Antologi Puisi
  • e-sertifikat pemenang

Pemenang III:

  • Uang tunai Rp 250.000,-
  • 1 buku Antologi Puisi
  • e-Book Antologi Puisi
  • e-sertifikat pemenang

Segera kirimkan karyamu!

Sebarluaskan kepedulian dan kecintaan kita pada anak-anak. Satu peningkatan kesadaran pada diri manusia, berarti mengurangi potensi kekerasan pada anak.

God Bless You All

©Poetry Prairie – 2016