Di bibir kota langit telah runtuh
Selubung warna kota terkelupas dengan lirih
Dan kita menggariskan jejak antarbintang
Dari ingatan yang luruh dan bersemayam di bumi
Menjadi kuburan sunyi di antara bumi dan matahari,
di antara denyut nadi dan debar hati
Kita adalah sepasang luka
Bertumbukan di bawah matahari
Bagai debu, gas waktu, nyalakan nebula
Kehancuran dimulai dari keruntuhan gravitasi
Bukankah bibit bintang selalu dimulai dengan pertempuran?
Kegelapan datang dengan tenang
Bintang-bintang padam
Kita tenggelamkan dalam genggaman
Membatu dan menjadi manik-manik mata
Yang kita coba lupakan dengan perih
Karena kerinduan melekat dengan pedih
Dalam kata-kata yang kita telan
Membakar kerongkongan, menjadi batu
Rindu ini tak akan pernah ditakdirkan bersuara
THE FATE OF PETRIFIED LONGING
On the city’s edge the sky has fallen down
The veil of the city’s colors are peeled off softly
And we outline the interstellar traces
From memories that have fallen and resided on earth
Becoming a silent grave between the earth and the sun,
between the pulse and the beating heart
We are a pair of wounds
Colliding under the sun
Like dust, the gas of time, igniting nebulas
Destruction begins when gravity collapsed
Isn’t the seed of stars formed through a battle?
The darkness swept quietly
The starlights dimmed off
That we let to sink between our grasp
Petrified and shifted into the beads of eyes
That we have tried to forget painfully
Because this longing adheres sorrowfully
Through all the words that we’ve swallowed
Burning the throat, becoming stone
This longing will never be fated to sound a voice
©Poetry Prairie, 2024