Senja yang Marah

Senja yang marah Merajuk sepi di penghujung hari Mengingat segala liku Membasuh segala luka Mengikat segala lupa  Tetes keringat dari langit menyeruak aroma kepulangan yang dinanti sejak waktu. Jika kembali adalah hatimu maka pergi adalah perih yang mesti diikhlaskan _sebisa mungkin. Senja semakin marah Sebab jemari kata seringkali hunus yang paling tajam Mencabik maruah yang …

Continue reading Senja yang Marah

Advertisements

Membatu Di Depan Kaca

Selepas tidak melakukan apa-apa, lalu apa-apa tidak bisa dilakukan, karena batas mengatur setiap apa: beku yang terjamah mata—pikiran terlanjur menjadi negara, mengapung atas pertanyaan sendiri. Aku tak tahu. Ketika menemuimu, sebuah pistol melekat di pipi, tak terasa ledaknya tapi mulut tak bisa bersuara, itu sekilas cahaya. Denyar membawa jiwa karam ke dasar seperti sebuah pasar. …

Continue reading Membatu Di Depan Kaca

Kesekian Kaliku

Ribuan bahkan milyaran Kecil, bahkan tersering besar sekalipun Napsu yang menguasai raga hina ini Hanya titik hitam, kala itu Terbalut kian hitam, benda mulia itu Saat ini.. Taubat seolah permainan jenaka Yang bisa kuulangi setelah berbuat Berbuat hal, yang Kau jadikan larangan. Sering sekali dosa setelah taubat ku Sehingga, terus sahaja berputar Ya, seperti permainan …

Continue reading Kesekian Kaliku

Mengukir Tembok Beton

Berpaling dari angan Dengan darah hati menanti Menuruti paksaan karena tersakiti Layaknya bulan menandingi matahari Kelopak mawarpun berguguran Karena awan melawan hujan Bak kertas mematahkan goresan hitam Dengan penuh penyesalan Kabut telah menanti Namun, darah putih datang membasahi pipi Dengan menatap buta Menyadari kesalahan yang membara Kurela… Meretakkan semua yang berlalu Tuk membuang gumpalan penyesalan …

Continue reading Mengukir Tembok Beton

Gelabah Malam

Bumi yang merupa kehidupan profan Seharusnya tidak menjadikan malam pongah dengan menindih siang Begitu juga dengan dua manusia telanjang yang mengupas keduniawian Besar rasanya, seharusnya menghayati alasan penciptaan Perempuan yang yoni dalam rupa lumpang, sabar menjadi sumber kehidupan Disandingkan dengan lelaki yang disangga Tertoteh begitu saja tanpa surat nikah Juga dalam sejarah catatan fana Keduanya, …

Continue reading Gelabah Malam

Terperangkap

kudengar debur jantung berdebar menahan denyar renjana liar yang menawarkan rinai kenikmatan kusadar tatapan mata telah berubah nanar memendam gusar diri yang pandir terbujuk oleh jebakan kesesatan kini aku benar-benar terkapar terbius ranum bibir para lacur yang tak jemu melena khayalan sampai kapan hal ini akan terbiar? sedang jiwaku kian menggelepar terkubang dalam lumpur perangkap …

Continue reading Terperangkap

Pagi

Mungkin, kau pernah di beranda Sebagai kemelinting hiasan dari kerang Yang dibawa oleh angin untuk cangkul di ladang Mungkin juga, aku pernah di antara pematang Sebagai gemerisik rerumpunan padi Yang dibawa oleh angin untuk gerabah di para-para Atau mungkin, kita selalu pura-pura tak tahu Jika kita saling mengisi : Kau kepada kejauhan dan aku dari …

Continue reading Pagi

Malam Panjang Pengampunan

Di kota ini pengampunan itu serupa pengemis jalanan Menggigil bertangkup udara munafik menjengkali malam-malam di musim dingin Wajahnya kotor dijelagai kesinisan Pakaiannya compang-camping disobek kebohongan Oh lupakan saja rasa bersalah!!! Malam masih panjang, dia sedang tidur nyenyak Di pelukan hangat perapian di rumah pengerat berdasi Dimana penyesalan??? Ia duduk di belakang meja sibuk memotong pajak …

Continue reading Malam Panjang Pengampunan

Sintesa: Blue Nude Pablo Picasso

Biru, ranum, pucat, lebam, telanjang Tampak punggung dan pinggul perempuan itu Menyembunyikan payudaranya dari sudut tatap "Tuan Picasso, dimana kubisme tuan?" Perkabungan membuat garis lekung, bukan persegi Mungkin itu bagiku, tapi bagi Picasso Yang telah lama hidup di titian garis mati: Siapa bisa tahu bagaimana rupa kelananya disana? "Dan, siapa perempuan itu?" Ah, sekali saja …

Continue reading Sintesa: Blue Nude Pablo Picasso

Bunuh Diri

Tangisan mengikat sumpah Uliran pada jiwa yang dilepaskan tak kentara Segala beban pada tulang telanjangnya Meski rasa itu tak benar-benar ada Tak nyata pun dalam mimpi Hingga ia menyeret tubuhnya sendiri Bersimpuh pada dahi yang melekat Matanya nyalang, berapi-api Menguras emosi yang tak berharga Tak ada yang tahu ombak di dalam sana Apa arti nyawa …

Continue reading Bunuh Diri