Koleksi Puisi

Kategori Puisi

  • Pendahuluan

    1/ SILIR Tak bisa lagi diajak berkompromi Berat, terasa berat melawannya Hawa dingin menyergap, menyelimuti layaknya kabut di pagi buta Ketukan detik jam terus berputar Berputar, berputar semakin cepat Air…

  • Gelora

    Dalam karung itu matahari ia pikul, ada juga jumawa yang sengaja ia jinjing tinggi tinggi. Lalu ketika hujan tumpah, dan menguyubkannya. Ia masih saja berkisah “Matahari ini kan tetap merajai…

  • Kasidah Air Mata

    ;Teruntuk Neng Ozara Selamat malam luka, selamat hijrah ke hatiku Apalagi yang semestinya hendak kututupi berkali-kali pada sepi Bilamana sekuntum mawar di tubuhku, perlahan gugur Mengering dedaunannya, sebab penindasan kemarau…

  • Falsafah Tragedi Rindu Kian Memanjang di Kota Dadaku

    Nona, mengawali segelintir cemas ranggas paling ganas di dadaku Aku ingin titip perihal pada nyala api yang menari di matamu Bahwa tragedi paling kukuh: Adalah tunggalnya kesaksian rindu. Apalagi yang…

  • Hari-Hari Nestapa

    pohon seribu satu malam itu dipeluk cahaya kamar kita kudengar ia merintih dari rimbunan hari-hari lalu kerap ia menatap nun ke langit gulung-bergulung awan-gemawan mengajari ia mendekap rahasia di dalam…

  • Senandung Daun

    seperti kupu-kupu lain kau senang terbang ke tempat yang kau ingin membiarkan hijau tubuhmu disaksikan dahan-dahan yang merindukan sentuhan sementara beberapa ilalang kerap membayangkan suatu saat tubuhnya senantiasa kekar lalu…

  • Ibu

    seorang ibu adalah cahaya, cahaya dan cahaya sebab, ia yang merangkul hati para pecinta. Purwokerto, Juni 2018 Penulis: Yanwi Mudrikah

  • Emmakku yang Cantik

    emmakku yang cantik sering kali mengajakku ke ladang melewati kebun nyiur melintasi rumah burung-burung dipanggulnya resahku beriring gemunung rumput yang mengembun ke matanya lalu aku jauh ia tersimpuh di kejauhan…

  • Perihal Mengakhiri

    Kau kembali dilingkap waktu Benang kusut kurus lenganmu pun Gagal melingkari jarum yang patah itu Menjahit, apalagi. Aku ingat pelipismu pernah disapih sepi. Dan kau jadi seumpama kita. Sebentar dulu,…

  • Pesan Ibu

    Di atas panggung aku menjadi saksi Ibuku berdiri dan melihat D antara kerumunan orang Tak lelah ia menikmati keletihannya Ribut orang banyak menjelma menjadi senyap Seolah hanyut dan larut dalam…

  • Suatu Saat Nanti

    Suatu saat nanti kau pulang Datanglah ke tepi gunung dekat pantai tempat kita menanak rindu Aku sudah menantimu di sana Ayah sendiri pernah berlayar dan Menebar debar asmaranya di sana…

  • Senja

    Aku menjadi saksi Tentang seorang ayah yang pulang ke rumah dengan perasaan bangga membawa sebungkus lauk untuk keluarga tercinta. Tentang sepasang kekasih yang sedang kasmaran menikmati indahnya jingga di cakrawala…

  • Nyanyian Kesedihan

    (Peristiwa Tragis) aku membayangkan betapa hari ke hari berikutnya begitu dingin bukan sebab ingin yang melayang-layang di pikiran tetapi, keputusan yang tegas dan pas di bulan Agustus aku nikmati haus…

  • Kembali ke Rumah Cahaya

    bukan gadis yang kau kejar apalagi rasa lapar tetapi, kau kembali ke rumah cahaya hingga menyala seluruh tubuh ruh-mu menyala ke lubuk ke lamuk tak ada kata ‘mengamuk’ kembalilah para…

  • //Garis Samar//

    I. Garis merah di sudut jari kanan bibirmuBagai senja yang terburu-buru bersoleksebelum hujan turun sore itu. Kau paksakan samudera ke dalam warna sepatumuyang aku dapat bercermin kepadanya—ganjil, aneh, janggal. II.…

  • Menulis Kerinduan

    Hujan adalah kutukan, Karena rindu tak pernah terbantahkan… Malam tak pernah bisa diam. Rindu yang tak dipertemukan, dari mimpi yang tak bisa diramalkan. Sisa kepingan malam yang kusimpan di saku…

  • Gadis Kecil Tanpa Nyawa Ayah Bunda

    Kau lihat bola bening matanya Mengalir jernih bulir-bulir lara Karena darinya sumber mata air air mata Kau lihat langkahnya Menapak kerikil tajam tanpa alas dari Ayah dari Bunda Hingga tertinggal…

  • Puan

    Cahaya melahirkan bayang: origami hitam yang diseret seorang perempuan sepanjang trotoar yang ditumbuhi tiang lampu, deret bangku panjang, dan pohon oak yang memanen senja kelabu suatu petang Sungai melukiskan wajah…

  • Menahkodai Purnama

    Aku hanya mengandalkan cahaya temaram senja di tepian pantai untuk menulis sebuah puisi yang terlahir dari kegelapan sebatang bakau dengan abunya yang menyala menjadi penerang setiap kata Tiada gulungan ombak…

  • Akar Tunggang

    Layakkah aku menjadi akar tunggang yang hidup tenang di matamu mencari sisa fosil-fosil mikro organisme tanpa air matamu yang menyuburi tanahnya kau sering mengubah musim dan jarak di saat sebuah…