Puisi Waktu & Kenangan / Poetry of Memory

  • Melipat Waktu

    Kopi di meja mulai dingin, tak tersentuh Di luar jendela, langit runtuh jadi peluh Orang-orang berlari mengejar bayangannya sendiri Sementara kita di sini, merajut sepi yang abadi Jam dinding itu berisik, menghitung sisa napas Kaki-kaki lelah melangkah di atas aspal panas Mereka lupa cara melihat matahari terbenam Terlalu sibuk menyalakan lampu yang temaram

  • Warna Yang Tertinggal di Telapak Tangan

    Aku menyimpan warna-warna kecil di telapak tangan biru dari langit masa kecil, cokelat dari tanah rumah lama, kuning dari cahaya yang jatuh di meja makan saat semua orang masih ada Warna-warna itu tidak pernah benar-benar hilang, hanya berpindah tempat dari mata, ke ingatan, dari ingatan, ke cara aku mencintai hal-hal kecil hari ini Barangkali begitulah…

  • Jam Yang Tak Pernah Berhenti Bertanya

    Jam dinding di ruang tunggu tidak pernah lelah bertanya, sudah sampai mana kau dengan hidupmu sendiri? Kita sering menjawabnya dengan kesibukan seolah bergerak cepat sama dengan bergerak maju

  • Penyair Sejati

    Apa yang begitu berharga dalam kehidupan? Mata manusia mendulang cahaya emas dan kemegahan batu-batu yang terus didaki Dada terbelah dalam aliran waktu diserbu ingatan tetes keringat yang berjatuhan memoles kelahiran menuju jalan kejayaan menyepuh tubuh dengan lapis kebahagiaan yang fana

  • What the Wind Cannot Carry

    Some words refuse to vanishThey stay, not in memory— but in the ache beneath forgettingI buried your shadow in a place without groundEven now, the soil won’t settleWhat is grief, but the persistence of a question no time has ever answered?And in the hush before waking,I still feel it— the shape of your absence curling like smoke inside the ruins of my…

  • Unsent Signal in the Age of Noise

    I composed you not as a letter, but as a frequency no one tunes into anymore

  • Musim Di Balik Jendela

    Mungkin, kau pernah membuka jendeladan menemukan langit berubah warnakarena musim yang berganti telah merambatitanah, rumput dan pepohonan secara halusDan di sana, di tempat yang sama kau melempar pandanganmenanam ingatan yang berbedadan perasaanmu berubah di bawah cahaya Mungkin, aku telah terbiasa membuka jendelamemandang warna langit yang berubah tanpa bisa dicegah seperti daun tua yang berguguran jatuh…

  • Angin yang Merahimkan Syair

    Aku hafal benar dengan angin, Aromanya, warna dan tabiatnya Bersebab dianya senantiasa ada Walau dalam ketiadaan Kedangkalan pikiran. Rasa Dan pengharapan Di jejaknya lambai jiwaku dan Memancang tanda-tanda Meruap pada dinding dengan lukisan rupa Aku hafal benar riuhnya hentikan geloraku Bersenandung pita suara pecah di ujung malam Aku hafal benar aroma angin menutup pintu yang…

  • Corona

    Di masa seperti ini, dalam bayang kegelapan pandemi sekali lagi kita harus mengingat percakapan batin kita dengan dunia karena kita tak akan pernah tahu bagaimana dunia akan berubah di hadapan kematian dan kehidupan baru Obat terlarang dan pembunuhan, bom dan perang kita sangka pembantai paling mengerikan namun semesta memiliki kisah lain untuk diceritakan bumi yang…

  • Senja

    Aku menjadi saksi Tentang seorang ayah yang pulang ke rumah dengan perasaan bangga membawa sebungkus lauk untuk keluarga tercinta. Tentang sepasang kekasih yang sedang kasmaran menikmati indahnya jingga di cakrawala sambil berbicara tentang rencana-rencana membangun sebuah rumah tangga. Tentang anak kecil dengan wajah masam yang tak mau disuruh berhenti bermain bola oleh ibunya karena hari…

  • Laguna Barat

    Aku tetapkan tasbihku di laguna barat berhadapan bias cakrawala Puisi yang kulukis makin terasa sepi, digulung harapan yang tak puas diharap Perjalanan hidup yang melaksa jiwa tak pernah usai bahkan lebih menjadi-jadi Hingga terngiang, terkapar rautku menatap tubuh yang kian asing disentuh Tubuh yang dulu menemani berjalan hingga ujung lembah lain tertuntaskan Tubuh yang terbalut…

  • Endorfin

    Aroma tubuhmu telah lama aku simpan dalam bisik nadi Perahlah, ia begitu suci selayak air yang mengalir dalam pelukku. Sesekali aku pernah bermimpi menjadi keringat dalam perjalananmu Menjadi derak nafas yang pasang surut Seketika engkau mempercepat langkahmu sepanjang kemarau, sepanjang ephemrida yang engkau tulis kembali.

  • A Kiss From Your Brother

    Di perjalanan ini, perjalanan untuk kembali Hati bertanya-tanya, hati nyeri Kisah apa di ujung perjalanan yang harus dijalani Dalam laju mobil di terik siang Mata mencari-cari jejak kenangan yang hilang Jalan raya cepat menghilang Menyempit di belokan Sawah melapis hamparan tanah Diselingi pohon pisang dan kapuk randu dibawah dua gunung

Puisi Lainnya


Musik Poetry Prairie

Dengarkan lagu puisi terbaru “Melipat Waktu

Poetry Prairie Journal

Temukan puisi-puisi indah lainnya di sini

Kirim Puisi Poetry Prairie

Kirimkan karya puisimu, mari berbagi puisi