Puisi

  • Angin yang Merahimkan Syair

    Aku hafal benar dengan angin, Aromanya, warna dan tabiatnya Bersebab dianya senantiasa ada Walau dalam ketiadaan Kedangkalan pikiran. Rasa Dan pengharapan Di jejaknya lambai jiwaku dan Memancang tanda-tanda Meruap pada dinding dengan lukisan rupa Aku hafal benar riuhnya hentikan geloraku Bersenandung pita suara pecah di ujung malam Aku hafal benar aroma angin menutup pintu yang…

  • Karena Waktu, Aku Bisa Mengingat

    Karena waktu, aku bisa mengingat: Semula hanya ingatan yang sering bermain-main sendiri di kepala. Menanyakan kekasih juga pisau untuk membuat luka. Luka yang diyakini sebagai penghilang kekanak-kanakan. Mengubah tangis jadi suatu kegembiraan yang tanpa dendam. Prasangka seringkali dibenturkan pada bayang-bayang yang pahit. Membentuk penanggalan warna merah di halaman, di jalan, di alun-alun sampai harus membingkai…

  • Corona

    Di masa seperti ini, dalam bayang kegelapan pandemi sekali lagi kita harus mengingat percakapan batin kita dengan dunia karena kita tak akan pernah tahu bagaimana dunia akan berubah di hadapan kematian dan kehidupan baru Obat terlarang dan pembunuhan, bom dan perang kita sangka pembantai paling mengerikan namun semesta memiliki kisah lain untuk diceritakan bumi yang…

  • Jarak Pandang Kita

    Tidak pernah ada kabutSebab udara tak juga mengenal gigilMeski matahari tampak seolah berselimut Aku tak bisa memandangmuwalau kurasa jarakmu hanya secuil.Tidak ada tembok, Jerman telah bersatuTersisa sebuah, tempat orang memanggilTuhan yang jauh dan tinggiAku pun merasa sesak, tanpamu, bernapas menjadihal paling tak bebas. Tak bisa kulepasmasker di wajah, namun mata perih, tetaptak bisa melihatmu sama…

  • Rumus Rindu

    sungguh! tiada lebih bising manakala dengung denting kerinduan kian melengking nyaring dalam replika kenangan tentang kita. mungkin benar; merindu bukanlah sandiwara politik. serupa sidang para kabinet wakil kita kian pandai merangkai permainan kata berupa wacana. aku tak pernah bisa berkata jujur untukmu, kawan. bilamana wajahmu kerap menabur subur di hati dan mata yang seketika mencipta…

  • Pendahuluan

    1/ SILIR Tak bisa lagi diajak berkompromi Berat, terasa berat melawannya Hawa dingin menyergap, menyelimuti layaknya kabut di pagi buta Ketukan detik jam terus berputar Berputar, berputar semakin cepat Air mengalir keluar dari mata, mengambang dan jatuh Suara yang terdengar bagai kereta cepat Hanya lewat sepintas tanpa disadari Dengan suara lirih selirih hembusan nafas manusia…

  • Gelora

    Dalam karung itu matahari ia pikul, ada juga jumawa yang sengaja ia jinjing tinggi tinggi. Lalu ketika hujan tumpah, dan menguyubkannya. Ia masih saja berkisah “Matahari ini kan tetap merajai semesta” Ia yang buta dengan benderang obor di tangannya. Dihadapnya, sumbu peletup segala dermaga dengan puluhan drum berisi rum. Satu ledakan mampuskan beberapa anak kecoa…

  • Kasidah Air Mata

    ;Teruntuk Neng Ozara Selamat malam luka, selamat hijrah ke hatiku Apalagi yang semestinya hendak kututupi berkali-kali pada sepi Bilamana sekuntum mawar di tubuhku, perlahan gugur Mengering dedaunannya, sebab penindasan kemarau Tak henti-hentinya kau kirim dari senyummu Bahkan, seratus duri-durinya Pasrah menancap di curam dadaku. Terimakasih luka, perih yang kau wasiatkan padaku Telah sempurna menjadi riuh…

  • Falsafah Tragedi Rindu Kian Memanjang di Kota Dadaku

    Nona, mengawali segelintir cemas ranggas paling ganas di dadaku Aku ingin titip perihal pada nyala api yang menari di matamu Bahwa tragedi paling kukuh: Adalah tunggalnya kesaksian rindu. Apalagi yang harus kukatakan pada langit Bilamana kebenaran dari rinduku Tak pernah mengenal proklamasi musim Keadilan kemarau, juga tetas rinai hujan yang bertandang di pekarangan rumahmu. apalagi…

  • Hari-Hari Nestapa

    pohon seribu satu malam itu dipeluk cahaya kamar kita kudengar ia merintih dari rimbunan hari-hari lalu kerap ia menatap nun ke langit gulung-bergulung awan-gemawan mengajari ia mendekap rahasia di dalam kamar seorang gadis legam memijaki bayang-bayang wajahnya hening tetapi pikirannya gemuruh angin daunan itu semakin menguning sebentar lagi bakal terpelanting menyusur udara lalu melepas lelah…

  • Senandung Daun

    seperti kupu-kupu lain kau senang terbang ke tempat yang kau ingin membiarkan hijau tubuhmu disaksikan dahan-dahan yang merindukan sentuhan sementara beberapa ilalang kerap membayangkan suatu saat tubuhnya senantiasa kekar lalu merayumu tuk singgah sebentar alkisah, semasa menjadi ulat kau sering mencumbu tubuhku hingga sekarat bahkan, telah kuberikan seluruhnya padamu walau tak pernah kutahu seperti apa…

  • Ibu

    seorang ibu adalah cahaya, cahaya dan cahaya sebab, ia yang merangkul hati para pecinta. Purwokerto, Juni 2018 Penulis: Yanwi Mudrikah

  • Emmakku yang Cantik

    emmakku yang cantik sering kali mengajakku ke ladang melewati kebun nyiur melintasi rumah burung-burung dipanggulnya resahku beriring gemunung rumput yang mengembun ke matanya lalu aku jauh ia tersimpuh di kejauhan tubuhku mengabut asapnya mencium mata emmak hingga bening kesedihannya hingga pedih kenyataannya LK, 6 November 2018 Penulis: Ibna Asnawi

  • Perihal Mengakhiri

    Kau kembali dilingkap waktu Benang kusut kurus lenganmu pun Gagal melingkari jarum yang patah itu Menjahit, apalagi. Aku ingat pelipismu pernah disapih sepi. Dan kau jadi seumpama kita. Sebentar dulu, kataku saban hari Cangkir hujan, dan sebuah sunyi Masih blingsatan di antara kedua belahan sayap rampingmu Tiap larik sendunya berpelu Jadi pilu yang mengekalkan hujan…

  • Pesan Ibu

    Di atas panggung aku menjadi saksi Ibuku berdiri dan melihat D antara kerumunan orang Tak lelah ia menikmati keletihannya Ribut orang banyak menjelma menjadi senyap Seolah hanyut dan larut dalam teduhnya tatap Gema bunyi menghilang ditelan sunyi Ada kata yang hendak disampaikan Oleh mata yang sejak dulu menjadi teman Tenang Damai Tentram Dan nyaman Dalam…

  • Suatu Saat Nanti

    Suatu saat nanti kau pulang Datanglah ke tepi gunung dekat pantai tempat kita menanak rindu Aku sudah menantimu di sana Ayah sendiri pernah berlayar dan Menebar debar asmaranya di sana Bersama selembar malam dan sebuah sepi Kita dipancang ke pelupuk pertiwi Tak ada yang berubah Toilet dan kamar mandi masih ada Fotomu juga masih pajang…

  • Senja

    Aku menjadi saksi Tentang seorang ayah yang pulang ke rumah dengan perasaan bangga membawa sebungkus lauk untuk keluarga tercinta. Tentang sepasang kekasih yang sedang kasmaran menikmati indahnya jingga di cakrawala sambil berbicara tentang rencana-rencana membangun sebuah rumah tangga. Tentang anak kecil dengan wajah masam yang tak mau disuruh berhenti bermain bola oleh ibunya karena hari…

  • Nyanyian Kesedihan

    (Peristiwa Tragis) aku membayangkan betapa hari ke hari berikutnya begitu dingin bukan sebab ingin yang melayang-layang di pikiran tetapi, keputusan yang tegas dan pas di bulan Agustus aku nikmati haus dan lapar dengan waktu yang makin menghempas di dada seorang Ibu yang melahirkan, yang merawat, dan membesarkanku aku tahan lapar aku menahan memar sampai pada…

  • Kembali ke Rumah Cahaya

    bukan gadis yang kau kejar apalagi rasa lapar tetapi, kau kembali ke rumah cahaya hingga menyala seluruh tubuh ruh-mu menyala ke lubuk ke lamuk tak ada kata ‘mengamuk’ kembalilah para pencinta kepada cahaya lenyaplah dari huru-hara dunia dan prahara di deretan jarum dan benang dunia kembalilah ke rumah cahaya Darmakradenan, 2018 Penulis: Yanwi Mudrikah

  • //Garis Samar//

    I. Garis merah di sudut jari kanan bibirmuBagai senja yang terburu-buru bersoleksebelum hujan turun sore itu. Kau paksakan samudera ke dalam warna sepatumuyang aku dapat bercermin kepadanya—ganjil, aneh, janggal. II. Kau mencoba mengukir kisah kasih di atas kertas,namun sayang, tintamu habissebelum namaku usai kau tulis setelah namamu Dan cahaya lilin yang kian redupmembawa bayanganku semakin…

  • Menulis Kerinduan

    Hujan adalah kutukan, Karena rindu tak pernah terbantahkan… Malam tak pernah bisa diam. Rindu yang tak dipertemukan, dari mimpi yang tak bisa diramalkan. Sisa kepingan malam yang kusimpan di saku celanaku kini hilang. Setelah kuselidiki dia kembali bertengger di atas, menemani bulan yang lalu lalang sembari mengutuki bintang-bintang memunguti pecahan waktu. ; karena sisa untuk…

  • Gadis Kecil Tanpa Nyawa Ayah Bunda

    Kau lihat bola bening matanya Mengalir jernih bulir-bulir lara Karena darinya sumber mata air air mata Kau lihat langkahnya Menapak kerikil tajam tanpa alas dari Ayah dari Bunda Hingga tertinggal jejak-jejak kerikil di kakinya Kau lihat mukanya Tertutup kabut kelabu hitam dalam Guratan asa tergambar di pipi kanan kirinya Membuat kusam panorama pandang melihatnya Diraihnya…

  • Puan

    Cahaya melahirkan bayang: origami hitam yang diseret seorang perempuan sepanjang trotoar yang ditumbuhi tiang lampu, deret bangku panjang, dan pohon oak yang memanen senja kelabu suatu petang Sungai melukiskan wajah seorang hawa yang tengah berdiri mematung di pinggir jembatan dengan isak yang ia coba titipkan kepada rinai air dan aroma mendung gigil Hening mengikal di…

  • Menahkodai Purnama

    Aku hanya mengandalkan cahaya temaram senja di tepian pantai untuk menulis sebuah puisi yang terlahir dari kegelapan sebatang bakau dengan abunya yang menyala menjadi penerang setiap kata Tiada gulungan ombak juga desir angin yang mampu menakutiku semua terasa tenang ketika lampu-lampu perahu menemani kesunyianku aku tak peduli jika saja ombak mau membawaku ke pelatarannya meskipun…

  • Akar Tunggang

    Layakkah aku menjadi akar tunggang yang hidup tenang di matamu mencari sisa fosil-fosil mikro organisme tanpa air matamu yang menyuburi tanahnya kau sering mengubah musim dan jarak di saat sebuah cinta mulai bermimpi meleburkan kisah rindu abadi hingga aku boleh berkata : layakkah seorang aku Dan jika musim perkawinan pelangi tiba kabarkan padaku dengan segera…