Madah Perkawinan


image

I
menjelang matamu terpejam,
kau tutup langit-langit pelataran kembara
dengan wajah alam kesemestaanmu.
tepat saat musim bersujud
merubuhkan tiang lampu kota
juga rumah-rumah kaca!

II
di muka dunia menyempit ini,
mataku mendidih oleh rona apimu
yang menjilat-jilat dari pusara cinta
tempat persemayaman abadi ratu Sheba

hidupku mengangkang oleh kemelut cita-cita
mata batin jauh memandang ke perbatasan
membaca tanda pada cuaca, pada angin,
pada gemuruh dada sendiri yang gempa

betapa ajaib gairah pemangku jagatku ini!
biar aku hanya makhluk tanpa mu’jizat:
Mazmur kebijaksanaan Sulaiman Sang Nabi,
membimbingku keluar dari labirin tipu muslihat.

III
dengan gairah penyatuan sebatang rusuk
yang Tuhan pisahkan sejak Adam ngidam Hawa
aku pun lahir demi menunaikan takdir-Nya
dan kepadamu aku datang melunasi pinangan

bila kau bimbang oleh ketampanan, harta,
dan kekuasaan yang tidak menjadi nasibku,
akan kutunjukkan padamu, hati ratu Sheba
yang takluk pada lelaki dari negeri Ursyalim

ya, dialah utusan penyeru kebijaksanaan
dan aku hanyalah pejalan ringkih
penganggit madah suram kota zaman teknologi
yang hendak menghapus duka di matamu

sampaikah padamu getar jiwa dari madahku?
madah yang kutulis dengan ruh para pujangga
demi mendapatkan cinta kasih lahir-batinmu
umpama Sulaiman menaklukkan hati Sheba

IV
betapa kuat tarikan magnet besi beranimu
energi segala inderaku leleh ke lembah semadi
melumuti bilik berlumut biru penuh bekas bibirmu
peretak kaca sempit tanpa kedip halusinasi

dari ujung rambutmu yang rumput laut
kutemukan makna hidup yang pernah redup
lalu sepasang alismu menjelma dua ekor belut
meliuk-liuk ke rongga terumbu karang dadaku

wahai makhluk licin pewaris tabiat ratu Sheba
tangkap dan genggamlah lidi-lidi takdirku
biar purna khataman ikhtiarku di jalan kembara
biar sirna seluruh guruh penghancur batu-batu rindu

lihatlah ke kedalaman sumur mataku;
mata airnya mengandung zat-zat cintamu,
yang berkilauan merjan-merjan suargaloka
penepis dahaga para pecinta dan duka dunia

V
bumi menyerap saripati daging kelapa gading
di tanah pekuburan para petani prosa dan puisi
dan aku yang menanam padi di ladang kalbumu
berdoa: Tuhan abadikanlah penyatuan kami!

demi doa yang terpanjat, kau khusu’ bertasbih
hingga mencuat dari bibirmu mekar melati
dan keris bertangan naga dari tanah Jawa
yang akan kukenakan untuk melamarmu

atas penyatuan kita yang diamini margasatwa
kupahami maknanya dan kuterima berkahnya
sebab engkaulah sang penunjuk semata arti
bahwa cinta adalah sinar jembatan tajjali

yakinlah aku dan kuyakinkan kau, wahai istri
sebab ruh cinta yang maha, kita saling bicara
di ranjang segala sifat dan zat yang Abadi
hingga tak padam senyum umat manusia

dan di pelaminan penuh berkah semesta
biarkan kumadahkan Mazkurku padamu:

akulah pejalan ringkih penakluk perih kelana
yang dihianati tahun-tahun perkawinan musim.
dengan Hud-Hud Sulaiman dan selendang Cleopatra
kunaiki tebing terjal di batas bumi dan langit!

Yogyakarta, 2015-2016

———————————————

The Hymn Of Marriage

I
before your eyes closed,
you close the sky of courtyard’s wander
with your universal nature look
right when season kneeled down
destroying the city’s streetlight
also the greenhouses!

II
in this narrowing world,
my eyes are boiled by hues of your fire
blasting from the tomb of love
a timeless funeral of Queen Sheba

my life astride by the turmoil dreams
my inner eye looking farther to the border
reading the sign on the weather, the wind,
and rumbles on my own quaking chest

how magical the passion of this world’s creator
even though I’m only a being without wonder
the wisdom Psalm of Solomon the prophet,
lead me out of this deceiving labyrinth

III
with passion on unifying a strip of ribs
that God had separated from Adam who was craving for Eve
I was born to complete his destiny
and to you, I come to offer my proposal

if you’re indecisive by a handsome face, great wealth,
and power that does not destined to be my fate,
I’ll show you, the heart of Queen Sheba
that was fallen to a man from Ursyalim

yes, he was the messenger of wisdom preach
and I am only a frail wanderer
a dreary hymn composer from a city in the technology era
who wanted to erase the sorrow in your eyes

have they come to you, the soul vibes of my hymn?
the hymn that I wrote with the spirits of poets
to reach your love, body and mind
just like when Solomon conquered the heart of Sheba

IV
how strong the pulls of your magnetic iron
all my senses energy are melting into a meditation valley
covering a blue mossy chamber that scarred with your lips
cracking narrow glass without a blink of hallucination

from the tip of your seaweed-like hair
I found the meaning of life that once was dimmed
then your eyebrows transformed into two eels
snaking into the cavity of my coral chest

O, slipper creature, the heir of
Sheba’s nature
catch and clasp my destiny
let my will completely ends in the street of wanderer
let all the roars from the crusher of longing stones vanished

look into my well-depth eyes
the spring water contains your substances of love,
sparkling shiny and divine
the lover’s thirst and world’s grief remover

V
the earth absorbs ivory coconut meat essence
in the graveyard of prose and poetry farmers
and I, who grow rice in your fields of heart
pray: Lord, let our unity becomes eternal!

for the sake of praying, you glorify deeply
till jasmine blooms out of your mouth
and a dagger with dragon hilt from the land of Java
that I would wear to propose you

upon our unification that was blessed by the wildlife
I understand the meaning and accept the blessing
cause you are the cicerone of meaning
that love is the light of tajjali bridge

I assure and I assure you, O wife
because of the spirit of infinite love, we’ve talked to each other
in bed where all nature and substance are eternal
and the smiles of mankind are not yet extinguished

and in the aisle full of universe blessing
let me sing the hymn of my will to you:

I am a frail wanderer, the conqueror of smarting rove
who had been betrayed by years of marriage season.
along with Solomon’s Hudhud and Cleopatra’s shawl
I climb the steep cliff at the edge of the earth and the sky!

Author: Selendang Sulaiman
Translated by Poetry Prairie
Selendang Sulaiman. Lahir di Pajhagungan, Sumenep tahun 1989. Penulis Puisi Utama pada PPL I “Mekarnya Kehidupan”. Karya-karyanya tersiar di berbagai media (Koran, Majalah, Jurnal) baik lokal maupun nasional juga dalam puluhan bunga rampai. Menulis puisi baginya, seperti menciptakan kehidupan penuh kebahagiaan. Dengan puisi, batin dan jiwanya menjadi lebih bergairah pun penuh makna. E-mail: selendang14@gmail.com.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s