Elysium


image

dermaga kita semakin enggan
menjelma penambat kapal itu.
kapal itu adalah pelayaran kita
yang kelak tersesat di antara uap
laut, burung-burung camar, dan
puisi-puisi cinta yang membajak
lautan.

-jendela lingkaran: untukmu-

kita memandang dermaga itu
melalui sebuah jendela yang
tak bersudut: tetas telur yang
menyeruakkan harapan-harapan.
apa kau percaya pada hutan
yang membikin cinta tersesat?
mungkin ia bisa menunggu
hingga pabrik di balik jendela
ini mengeluarkan sebuah puisi
yang akan menuntunnya.

kau tahu, kompleksitas kita
yang purba adalah labirin yang
kehilangan dinding-dindingnya.
rindu kita yang semakin tua
tak hendak kerontang: badai
abadi yang mengecup geladak
kapal itu.

-hujan doa: untuk ibu-

aku selalu tersesat, saban malam,
dalam mimpi-mimpimu yang
begitu jauh. aku takut langkahku
keburu terkikis habis sebelum
jarak itu dapat kaumasukkan ke
dalam saku. dan kita, selama
ini, merayakan cinta di antara
diam yang hidup sedari zaman
purba.

doamu adalah segudang harapan
yang diam-diam merasukiku.
dan tetap sunyi seperti lelap
yang mendekap gerimis, atau
perapian yang malas menyanyikan
retihan api.

-negeri belulang: untuk ayah-

tulang-belulangmu hanyut di dalam
asam lambungku. tak ada satu pun
kenangan yang mempertanyakan
kenapa tubuhmu tetap tegak: sebuah
koda yang lupa memenuhi tugasnya.
atau, komposisimu memang tanpa
koda.

di komputer yang berbeda, kau
menggambarku, aku menulismu.
di balik payung yang sama, kau
menjinakkan hujan, aku hanya
mengeja rintik-rintik yang tak
ingin berpulang ke langit.

kupikir, kau merayakan cinta
dengan cara yang paling rumit.

-pangeran angin: untuk kakakku-

bagianmu adalah yang paling sulit
kuukir. kita sama-sama buah dari
harapan, dan harapan itu sendiri.
tapi percayalah, kau berada di kapal
ini untuk terjerat pelayaran dan
perayaan cinta yang sama, yang,
berdasarkan komposisi ayah, tak
memiliki koda.


Elysium

our quay is getting more reluctant
incarnates into moors of a ship.
that ship is our cruise
that someday would lost among the haze
ocean, seagulls, and
love poems that plow
the ocean.

-round window: for you-

we looked at the quay
through a window
without angle: hatch of an egg that
flourishing the expectation.
do you believe in the woods
that made love lost?
it might be waiting
until the factory behind the window
starts issuing a poem
that will lead the way.

You know, our complexity
which is ancient, is a labyrinth that
has lost its walls.
our longing is getting older
unwilling to be dried: eternal
storm that kiss the deck
of the ship.

-rain of prayers: for mother-

I always get lost, every night,
in your dream that is
so faraway. I’m afraid my steps
soon will be eroded before
you can put the distance into
your pocket. and we, by
far, celebrating love between
the silence that had lived since the ancient
days.

your prayer is a myriad of expectations
which secretly possessed me.
and remains silent like a soundly sleep
that embraces the drizzles of rain, or
lazy fireplace that sings
the crackles of the fire.

-the land of bones: for father-

your bones are drifting on
my gastric acid. not even one
memory will question
how your body’s still upright: a
coda that forgot to fulfill its duty.
or, your composition is indeed without
coda.

on a different computer, you
drew me, I wrote you.
under the same umbrella, you
tamed the rain, I was just
spelling the drizzles that weren’t
wanting to go back home into the sky.

I think, you are celebrating love
in the most complicated way.

-the prince of wind: for my brother-

your part is the most difficult
for me to carve. we are the same fruit of
hope, and yet the hope itself.
but believe me, you are in this ship
to be entangled with the same
cruise and love celebration, which are,
based on our father’s composition, not having a coda.

 

Author: Surya Gemilang

Translated by Poetry Prairie

 

Surya Gemilang. Lahir di Denpasar, 21 Maret 1998. Ia suka menulis puisi (juga karya sastra lainnya) karena kehidupan tak pernah sebebas-seindah kata-kata. Antologi cerpen tunggal pertamanya berjudul Mengejar Bintang Jatuh (2015). Karya-karya tulisnya yang lain dapat dijumpai di sejumlah antologi bersama dan sejumlah media.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s