-
Ibu
seorang ibu adalah cahaya, cahaya dan cahaya sebab, ia yang merangkul hati para pecinta. Purwokerto, Juni 2018 Penulis: Yanwi Mudrikah
-
Menanam Rantau Cuaca
I awan-awan kelabu bergelantung di langit Januari kali ini merintikkan rinai-rinai kenangan pada jejak kota kelahiran hujan-hujan kerinduan membasahi tubuh anak perantauan yang ingin kembali dari ranah peraduan mengingat masa silam ketika masih bocah dan ingusan membantu bapak menyemai padi-padi di sawah yang mulai menguning seperti kulit ini sambil berlarian di sepanjang pematang aku berhayal…
-
Sisa Perjalanan
Di balik senja, yang merangkak letih pada punggung langit Kau mengulum jingga dalam diam tak disisakan seberkas, sebait, sebaris saja Untuk kukenang, di malam-malam yang mengemis bintang. Sepi dan sunyi, menjelma malaikat yang menduduki pundak Memilihkan pematang, lembah, bukit, dan belukar sebagai jalan mendekati tuju, sebidang maya, yang tak akan pernah mengecup nyata. Kamu. Sendiri…
-
Dalam Diam
Janganlah dulu kau pamit Janganlah dulu kau beranjak Malam waktu baru menyapa, Silahkan masuk katanya. Sunyi masih muda Alun angin masih menari-nari lincah dan kita berdua terduduk di sini di bangku taman di bawah pohon rindang berterangkan hanya sebatang lilin yang terus leleh dimakan waktu saling bertatap dalam diam diselimuti kabut; kabut bianglala Arak-arakan gerimis…
-
Madah Perkawinan
I menjelang matamu terpejam, kau tutup langit-langit pelataran kembara dengan wajah alam kesemestaanmu. tepat saat musim bersujud merubuhkan tiang lampu kota juga rumah-rumah kaca! II di muka dunia menyempit ini, mataku mendidih oleh rona apimu yang menjilat-jilat dari pusara cinta tempat persemayaman abadi ratu Sheba hidupku mengangkang oleh kemelut cita-cita mata batin jauh memandang ke…
-
Endorfin
Aroma tubuhmu telah lama aku simpan dalam bisik nadi Perahlah, ia begitu suci selayak air yang mengalir dalam pelukku. Sesekali aku pernah bermimpi menjadi keringat dalam perjalananmu Menjadi derak nafas yang pasang surut Seketika engkau mempercepat langkahmu sepanjang kemarau, sepanjang ephemrida yang engkau tulis kembali.
-
Rindu
Teruntuk bisikan angin berhembus merdu. Apa kabarmu? Sudah seabad tak kurasakan dinginnya kehadiranmu Teruntuk angin muson dari timur. Sedang dimana dirimu? Tak kulihat kau menunggu di pertigaan musim Teruntuk gumpalan angin dalam syahdu. Kau tinggalkan kemana jejakmu? Ingin kudaki jejak samar yang kau tinggalkan di pucuk malam
-
Jalan Sunyimu
pagi adalah kepolosan yang menyeka air mata senja adalah kepulangan jiwa pada diam diam… yang menggetarkan jagad dalam petang kau dudukkan rasa
-
Di Kotamu
Di kotamu.. Ada senyum membius di ufuk pagi Merona terbakar ramahnya mentari Kepak sayap menggelora di tiap sudut jalan Memandang ke awan dan berseru “Di sinilah kan kugapai langitku!”
-
Pentas Kita
Hari ini, aku mencari wangimu di antara sekian aroma yang dikirim angin. Ingin kuberitahu kau, tentang puisi yang tumbuh dari pertemuan-pertemuan tak sengaja, pandangan yang gagap, dan senyum yang kusembunyikan. Telah kusiram ia dengan rindu yang jatuh di ujung senja, juga dengan rinai pinta pada Tuhan.
-
00:00 Definisi Cinta
kutelah ragu, kadang jarum yang menikam di bilik jantung padahal namanya adalah rindu telah lama bisu di situ, setiap detaknya harmoni dan empedu tak tahu, dasar tebing mana, atau sekecil kuantum apa hanya terjadi begitu saja
-
Perpustakaan Kita
Semestinya perempuan sebagai puisi, dan kau adalah penyair Tapi, aku memilih untuk menjadi puisi sekaligus penyair Bukan karena aku tidak butuh kau Sebab aku pahami : Aku tidak butuh namaku abadi di halaman buku
Puisi Lainnya
- Puisi Alam & Lanskap
- Puisi Kehidupan
- Puisi Cinta & Rindu
- Puisi Perpisahan & Kesedihan
- Puisi Manusia & Dunia
- Puisi Perjalanan
- Puisi Harapan
- Puisi Waktu & Kenangan
Musik Poetry Prairie
Dengarkan lagu puisi terbaru “Melipat Waktu“
