Sisa-Sisa



Ke mana perginya ingatan?
Jika kautanya begitu, aku pun tidak tahu.
Yang aku tahu, ia pernah merumah di dasar palung
yang gagal menenggelamkanmu.
Seperti sisa-sisa bercak waktu yang menempel pada
karang-karang: begitu mesranya mereka bergumul,
sementara kerang-kerang tergamit oleh lengan yang
biasa memainkan fonem kehidupan.
Sampan-sampan telah karam dan mereka masih berkecupan!

Apa kau tahu akan buih yang dihempaskan bersama
napas terakhir seekor paus yang telah lama membuat
rumah di atas kepalaku?
Benar. Ia sudah lama tak berkabar,
tetapi aku tahu ia tidak terdampar.
Ia mati kesepian.

Seperti apakah sepi yang berkali-kali mengambil
wujudmu dalam kedip kapal yang berlalu?
Aku ingin menyebutmu riak, aku ingin menyebutmu ombak.
Tetapi kau sudah sebatas penghabisan di dasar palung sekarang.
Palung yang gagal menenggelamkanmu seperti sisa-sisa bercak dan napas terakhir paus yang malang.
Kesepiankah, akhirnya kurasa?

Kemana perginya ingatan?
Jika kautanya begitu, aku pun tidak tahu.
Aku telah gagal lupa bahwa kau pernah
menguburnya rapat-rapat di celah-celah tubuhku
untuk kemudian berlayar pergi menjadi secarik ufuk
samudra yang tak akan pernah mampu kurengkuh.
Pada akhirnya, aku hanya palung; sementara kau:
sisa-sisa kemustahilan yang tidak perlu.


Penulis: Tony

Leave a comment