Karena buih yang berkumandang
Renyah dalam diam hangatnya nafas
yang sudah jadi prasasti ribuan tahun lamanya
Jauh bahkan ketika aku belum ada
Bebas, lepas
Riak ombak yang gemuruh janjikan damai yang tak
kunjung datang
Ketika ia tiba dan kau tiada
Sungguh, elokkah para ikan yang menari?
terumbu yang tumbuh seteru
Hingga karang menyatu dalam anganmu
Telah hilang bersama badai
Di bibir pantai tertulis namamu
Yang tidur bersama ribuan plankton
Mimpikan para lumba yang berlomba
Menggelayut manja si kuda laut
Demi neptunus penguasa samudera
Dewa-dewi penghuni surga
Dan aku musuh para malaikat
Ketika air menjadi batas kewarasanku
Dan kau lupakan, apa itu cinta
Terhanyut bersama derasnya lautan lepas
Dengan damai dan girang
Kukulum janji manismu
Meninju setiap saraf sadarku
Seperti lautan yang cantik dan indah
Yang ternyata hanya sedangkal mimpi buruk
Mungkin jawaban dari doa seribu duyung
tak pernah ada
Diseret badai yang tak kunjung reda
Tapi….
Kau pernah ada,
dalam spektrum cahaya alpha dan omega
Walau air mata hambar terasa
Kau akan tetap tertawan
Ini bukan puisi cinta
Yang selalu ada akhir, ini adalah kebinasaan
Jiwa yang hilang dan lenyap
Untukmu dariku yang tak bernama
Penulis: Sio Marris Juliana Hutasoit