Telah kuselami lautan dari kedua bola matamu,
bersama perahu doaku yang berlayar menghantar
segala, bersama tenangmu yang menyimpan ribuan
kenangan, bersama ikan-ikan, menyapa sukma dalam
bahasa rindu ; Rahim keabadian
Lautanku adalah buih-buih masa lalu, yang
menampung rahasia doa bebatuan. Agar sampanku
berlayar dengan lancar di tengah kelucak gelisah
sampai lunas menyisir kehidupan pada riak ombak,
hingga mencium bibir pantai
Dirimu yang selalu merentang tabah dengan luas tak
bertepi, mengisyaratkan janji pada musim pasang
nanti. Bahwa sampanku akan berpulang menuju hatimu.
Karena membaca laut
; Membaca dirimu.
Pondok Pena, 27 November 2016
Penulis: Rima Dwi Oktiana