Jalan Sunyimu


pagi adalah kepolosan yang menyeka air mata
senja adalah kepulangan jiwa pada diam
diam… yang menggetarkan jagad
dalam petang kau dudukkan rasa

aku digenangi kemarahan elokmu
aku dibanjiri rasa bersalah yang dalam
sekian lama sesalku menjadikanku tiada
sampai yang terbakar menjadi abu
jiwaku belum juga dewasa

matamu adalah bak telaga ketenangan
yang membuatku makin terisak
aku bukan siapa-siapa

haha,
aku tertawa pada diriku sendiri
betapa hidup adalah himpunan suka duka
dan cinta adalah sesuatu yang tak terjelaskan

pada suatu sore
aku tenggelam dalam ingatan tentangmu
engkau sudah pulang dengan jiwa kelegaan
sedangkan aku, masih seperti anak kecil
yang enggan menjemput kedewasaanku
lantas, tangisku tak lagi bersuara

cintamu membawaku pada rasa terdalamku
seolah engkau ingin mengatakan padaku
bahwa “kita datang hanya untuk pulang”

————————————-

YOUR SILENT PATH

morning is the innocence that shed tears
dusk is the soul returning to silence
a silence… that trembles the universe
in the twilight, you put your feelings

I am flooded by the grace of your anger
I am drowned in the depth of guilt
for so long, regret has made me disappear
until all that’s burned turns to ash
yet still, my soul has not grown

your eyes are like a tranquil lake
that makes me sob even more
I am no one

haha,
I laugh at myself
how life is a gathering of joy and sorrow
and love is something beyond words

one evening,
I sank into a memory of you
you had returned with a soul at ease
while I, remained childlike
unwilling to greet my own adulthood
and so, my cries became soundless

your love led me to my deepest feeling
as if you wished to whisper,
“we only come here
to return home”


Author: Farida Ardiyah
Translated by Poetry Prairie

Farida Ardiyah. Berasal dari Cilacap. Sekarang sedang menempuh pendidikan jurusan Psikologi di Universitas Mercu Buana Yogyakarta.
“Aku suka nulis puisi karena puisi bagiku adalah perwakilan bahasa hati, rasanya lebih asyik menuangkan pikiran dalam bentuk puisi.”

Leave a comment