Nyanyian Kesedihan

(Peristiwa Tragis)

aku membayangkan betapa hari ke hari berikutnya begitu dingin
bukan sebab ingin yang melayang-layang di pikiran
tetapi, keputusan yang tegas dan pas
di bulan Agustus

aku nikmati haus dan lapar
dengan waktu yang makin menghempas
di dada seorang Ibu
yang melahirkan, yang merawat, dan membesarkanku

aku tahan lapar
aku menahan memar
sampai pada batas

Darmakradenan, Agustus 2018

Penulis: Yanwi Mudrikah

Menahkodai Purnama

Aku hanya mengandalkan cahaya temaram senja di tepian pantai
untuk menulis sebuah puisi yang terlahir dari kegelapan
sebatang bakau dengan abunya yang menyala
menjadi penerang setiap kata

Tiada gulungan ombak juga desir angin
yang mampu menakutiku
semua terasa tenang
ketika lampu-lampu perahu menemani kesunyianku
aku tak peduli jika saja ombak mau membawaku ke pelatarannya
meskipun aku harus mati nantinya
namun dengan syarat
izinkan aku menahkodai purnama
walaupun terombang-ambing oleh gugusan awan

Dan aku ingin berteriak sekeras mungkin
di pantai selatan ini
melepas segala gundahku
hingga senja itu hilang ditelan kegelapan
dan aku ingin benar-benar layak menjadi raja
pada bintang-bintang yang termangu
menatap layar kaca mataku yang buram

Di jendela langit ada samudra
yang mengajak nyawaku berlayar di sana
padahal kakiku masih dibalut pasir-pasir
mustahil aku mampu melunaskan hasratnya
tapi sebuah perjuangan tidak berakhir di sini
aku tetap melangkah menyusuri lorong waktu
mencari jejak-jejak buih yang terdampar
di keasingan hatimu yang pasang-surut
sampai kursi senja mempersilahkan kita
untuk duduk bersama
menatap senja yang kembali bereinkarnasi
memikat roh pada langit di kiblat jiwamu
hingga laut membentuk surat dan perjanjian
mengabarkannya pada ikan dan terumbu karang
seraya berdo’a
memohon kepada Tuhan
untuk berkenan merestui
pernikahan keabadian purnama
di atas kapal yang dinahkodai oleh cinta

Semoga layaklah aku menjadi saksinya

Pantai Jetis, 2018

Penulis: Estu Ismoyo Aji

Urat Hikayat

Bumi yang dulu urat hikayat
Bumi yang dulu kisah sejarah, kini mengambang
Satu persatu kisahnya ditenggelamkan oleh zaman
Saat langit diatasnya membiru, Cakrawala di laut mengapung

Kepunahan yang terselubung tentang bumi yang sekarat
Hidup semakin jadi melarat
Saat aku berteriak hentikan!
Belatung-belatung berteriak jangan!

Bumiku semakin tersungkur
Bagaikan raja tak lagi punya makhota
Hilang sudah kebanggaan sang kuasa
Diruntuhkan lambat-lambat dari dalam

Ular-ular yang mengelilingi bumi kegirangan
Tak ada lagi nurani segala manusia
Datanglah seluruh isi perut bumi
Dunia bukanlah sesuatu yang kekal
Tak bisakah menunggu sang kuasa bertindak

Penulis: Ija Tiara Sihaloho

Senja yang Marah

Senja yang marah
Merajuk sepi di penghujung hari
Mengingat segala liku
Membasuh segala luka
Mengikat segala lupa 

Tetes keringat dari langit
menyeruak aroma kepulangan yang dinanti sejak waktu.
Jika kembali adalah hatimu
maka pergi adalah perih yang mesti diikhlaskan
_sebisa mungkin.

Senja semakin marah
Sebab jemari kata seringkali hunus yang paling tajam
Mencabik maruah yang disemat setinggi tiangtiang penantian
Mengoyak diri sehasta demi sehasta
Melawan gerus yang dipahat waktu
_sekuat tenaga.

Senja masih saja marah.
Di suatu sepi yang menyendiri,
kepulan asa telah menggantung di sudut mata.

Palopo, 2017

Penulis: Syahrir Baso Pajalesang


WRATH OF TWILIGHT

A wrath of twilight
Sulking silently when day ends
Recall every twist
Wash out every wound
Tie up every obliviousness

The sweat drops from the sky
bursting the scent of homecoming that has been awaited
If return is your heart
then go is the pain that must be endure whole-heartedly
_as strong as possible.

The wrath of dusk is getting deeper
Because fingers of words mostly the sharpest thrust
Tearing dignity apart as high as piles of waiting
Ripped us bit by bit
Battling the carving of time
_with all might.

Dusk still keeps its wrath.
In secluded loneliness
the cloud of hope string up in the eye’s corner.

Palopo, 2017


Author: Syahrir Baso Pajalesang

Translated by Poetry Prairie