The Art of Slam Poetry II: Workshop Slam Poetry Bersama Lizzie Chan


The Art of Slam Poetry II: Ketika Puisi Belajar Bernapas

Bagaimana membuat sebuah puisi tidak hanya terdengar, tetapi terasa?

Pertanyaan itu menjadi salah satu pintu masuk The Art of Slam Poetry II, kelas slam poetry yang digelar Galeri Indonesia Kaya bersama Jakarta Poetry Slam pada 23 Agustus 2026. Mengusung tema “Finding the Rhythm”, sesi ini mengajak peserta mengeksplorasi ritme, tempo, jeda, dan penekanan dalam membawakan puisi.

Slam poetry memang tidak berhenti pada kata-kata yang tertulis di halaman. Ia mempertemukan sastra dengan suara, tubuh, ekspresi, dan keberanian untuk hadir di hadapan orang lain. Karena itu, sebuah puisi yang sama dapat menghasilkan pengalaman yang berbeda ketika dibaca dalam hati dan ketika diucapkan di atas panggung.

Di sinilah ritme menjadi penting.

Dalam slam poetry, kata bukan sekadar memiliki makna. Ia juga mempunyai napas. Ada bagian yang perlu dipercepat, ada kalimat yang justru membutuhkan ruang hening, dan ada kata tertentu yang menjadi lebih kuat ketika diberi tekanan.

Melalui sesi Finding the Rhythm, peserta diajak menemukan kemungkinan-kemungkinan tersebut. Tujuannya bukan membuat semua puisi terdengar sama, melainkan membantu setiap penyair menemukan cara penyampaian yang paling sesuai dengan ceritanya.

Program ini merupakan bagian kedua dari rangkaian The Art of Slam Poetry bersama spoken-word poet Lizzie Chan, pendiri Jakarta Poetry Slam.

Konsep rangkaian ini memperlihatkan bahwa slam poetry dapat dipelajari secara bertahap: menemukan cerita dan suara personal, memahami bagaimana bahasa bekerja melalui ritme, lalu membawa karya tersebut ke ruang pertunjukan.

Lizzie Chan sendiri memiliki pengalaman panjang dalam dunia spoken word. Ia merupakan juara Poetry Slam Ubud Writers & Readers Festival 2023 dan Women’s Poetry Slam 2024. Pada 2025, ia mewakili Indonesia dalam Australia Poetry Slam dan tampil membawakan puisi orisinal di Sydney Opera House.

Bagi peserta, kelas ini bukan sekadar latihan membaca puisi dengan suara keras. Ia dapat menjadi kesempatan untuk memahami bahwa suara adalah bagian dari teks itu sendiri.

Sebab terkadang, puisi tidak menemukan kekuatannya pada kata yang paling keras.

Ia justru menemukannya pada jeda sebelum kata berikutnya lahir.

Tentang The Art of Slam Poetry

The Art of Slam Poetry merupakan program Galeri Indonesia Kaya bersama Jakarta Poetry Slam yang memperkenalkan slam poetry kepada khalayak yang lebih luas. Program ini terbuka bagi peserta berusia 14 tahun ke atas dan tidak mensyaratkan pengalaman sebelumnya.

Slam poetry sendiri merupakan bentuk puisi performatif yang memadukan sastra, teater, ekspresi, dan bahasa keseharian. Perkembangannya berakar dari budaya poetry slam di Chicago pada dekade 1980-an dan kemudian berkembang ke berbagai belahan dunia.

Dengan format yang relatif terbuka, slam memberi kesempatan kepada penyair untuk membawa pengalaman personal, kegelisahan, gagasan, dan cerita ke hadapan publik—bukan hanya sebagai teks, tetapi sebagai suara yang hidup.

The Art of Slam Poetry II — Finding the Rhythm
📅 23 Agustus 2026
⏰ 13.00–16.00 WIB
📍 Galeri Indonesia Kaya, Jakarta
🎟️ Gratis, tempat terbatas
👤 Usia 14 tahun ke atas
🎙️ Pengajar: Lizzie Chan

Program ini merupakan bagian dari agenda budaya Galeri Indonesia Kaya.

Agenda lainnya: Writer’s Soiree: Merangkai Luka Menjadi Kata


Kirim Puisi Poetry Prairie


Discover more from Poetry Prairie

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

Leave a comment