Writer’s Soiree: Merangkai Luka Menjadi Kata, Ketika Luka Menemukan Bahasanya
Bagaimana jika luka tidak hanya disimpan sebagai kenangan, tetapi diberi bahasa?
Pertanyaan itu menjadi pintu masuk Writer’s Soiree: Isi Hati, Tuang Jadi Puisi — Part II, sebuah kelas menulis puisi yang digelar Galeri Indonesia Kaya bersama Jakarta Poetry Slam pada 26 Agustus 2026.
Mengusung tema “Merangkai Luka Menjadi Kata”, sesi ini mengajak peserta mengolah pengalaman yang menyakitkan menjadi puisi. Bukan sekadar menuliskan kesedihan, tetapi menemukan cara untuk mengubah pengalaman personal menjadi karya yang memiliki makna.
Dalam puisi, luka tidak selalu harus diceritakan secara langsung. Ia dapat hadir melalui metafora, ingatan, benda, suasana, potongan percakapan, atau bahkan sesuatu yang sengaja tidak dikatakan. Proses menulis kemudian menjadi ruang untuk melihat kembali pengalaman dari jarak yang berbeda.
Itulah yang membuat kegiatan menulis puisi menarik: sebuah pengalaman yang pernah terasa begitu personal dapat menemukan bentuk baru ketika masuk ke dalam bahasa.
Writer’s Soiree: Isi Hati, Tuang Jadi Puisi dirancang sebagai ruang yang ramah bagi mereka yang sudah terbiasa menulis maupun yang baru ingin mencoba. Program ini memperkenalkan cara berpuisi yang dapat menjangkau berbagai kalangan, sekaligus menyediakan ruang untuk menulis bersama dan saling membaca karya.
Sesi Merangkai Luka Menjadi Kata merupakan bagian kedua dari rangkaian tiga pertemuan. Sebelumnya, sesi pertama bertajuk Seni Merindu mengajak peserta mengolah pengalaman tentang kerinduan menjadi tulisan. Setelah sesi kedua tentang luka, rangkaian ini akan ditutup dengan Puisi untuk Diri Kita pada September, yang mengarahkan peserta pada refleksi tentang diri dan perjalanan personal.
Dengan demikian, rangkaian Writer’s Soiree dapat dibaca sebagai perjalanan kreatif yang cukup intim: dari merindukan sesuatu, menghadapi luka, kemudian kembali memandang diri sendiri.
Yang menarik, sesi kedua tidak menawarkan luka sebagai sesuatu yang harus disembunyikan. Sebaliknya, pengalaman tersebut ditempatkan sebagai kemungkinan artistik—sesuatu yang dapat diolah menjadi bahasa, imaji, dan puisi.
Tentu, menulis tentang luka bukan berarti menghapus apa yang pernah terjadi.
Barangkali, menulis hanya memberi kita cara baru untuk memandangnya.
Dan terkadang, ketika sebuah luka akhirnya menemukan kata yang tepat, kita tidak lagi hanya menjadi orang yang pernah terluka. Kita menjadi seseorang yang mampu memberi bentuk pada pengalaman itu.
Ruang Menulis yang Tidak Menghakimi
Writer’s Soiree dirancang sebagai ruang untuk menulis tanpa tekanan. Peserta diajak membawa pengalaman dan perasaan mereka sendiri, kemudian mengolahnya melalui proses kreatif bersama. Program ini juga membuka kesempatan untuk saling membaca karya dalam suasana yang tidak menghakimi.
Bagi siapa pun yang merasa sering berhenti di depan halaman kosong, format seperti ini menawarkan titik awal yang sederhana: tidak perlu menunggu memiliki cerita yang sempurna untuk mulai menulis.
Kadang, sebuah puisi bermula dari satu kalimat yang terlalu lama kita simpan.
Detail Writer’s Soiree Part II
Writer’s Soiree: Isi Hati, Tuang Jadi Puisi – Merangkai Luka Menjadi Kata
📅 Rabu, 26 Agustus 2026
⏰ 18.00–21.00 WIB
📍 Galeri Indonesia Kaya, Jakarta
🎟️ Gratis, tempat terbatas
👤 Usia 14 tahun ke atas
👗 Dress code: Kebaya dan wastra Indonesia
🤝 Galeri Indonesia Kaya × Jakarta Poetry Slam
Pendaftaran setiap sesi dilakukan secara terpisah sehingga mengikuti sesi pertama tidak otomatis membuat peserta terdaftar pada sesi berikutnya.
Pada akhirnya, mungkin puisi memang tidak selalu lahir dari kebahagiaan.
Ada puisi yang tumbuh dari kehilangan. Ada yang muncul dari penyesalan. Ada yang lahir dari sesuatu yang belum selesai.
Agenda lainnya: The Art of Slam Poetry II with Lizzie Chan
Kirim Puisi Poetry Prairie
Discover more from Poetry Prairie
Subscribe to get the latest posts sent to your email.

1 Comment