Dari Puisi ke Dramaturgi: Ketika Puisi Menemukan Tubuh di Atas Panggung
Apa yang terjadi ketika puisi meninggalkan halaman dan berhadapan dengan tubuh, suara, ruang, serta penonton?
Pertanyaan itu menjadi titik berangkat Forum Dramaturgi Jakarta (FDJ) Edisi 6 bertajuk “Dari Puisi ke Dramaturgi”, yang akan berlangsung pada Sabtu, 29 Agustus 2026 di Balai Sastra H. B. Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.
Forum ini mengajak publik melihat lebih jauh proses perubahan puisi menjadi peristiwa panggung. Sebuah puisi yang semula bekerja melalui kata dan ruang imajinasi pembaca dapat mengalami perubahan ketika diterjemahkan ke dalam suara aktor, gerak tubuh, musik, tata cahaya, ruang, hingga struktur dramatik.
Di titik itulah dramaturgi menjadi penting. Adaptasi puisi ke panggung tidak selalu berarti mempertahankan seluruh kata dalam bentuk aslinya. Sebaliknya, proses tersebut dapat membuka pertanyaan tentang apa yang sebenarnya menjadi inti sebuah puisi: teksnya, gagasannya, ritmenya, suasananya, atau sesuatu yang tersembunyi di antara baris-barisnya.
FDJ Edisi 6 akan membicarakan berbagai kemungkinan tersebut, mulai dari pembacaan puisi dan dramatisasi, fragmentasi teks, eksplorasi tubuh serta suara, hingga penciptaan struktur pertunjukan yang berangkat dari puisi tetapi dapat berkembang menjadi bentuk artistik yang lebih mandiri.
Percakapan ini menghadirkan penyair sekaligus Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta Esha Tegar Putra, penulis dan sutradara Muhammad Panji Gozali dan Syahruljud Maulana, dengan penyair Emi Suy sebagai moderator.
Menariknya, forum ini tidak hanya mempertanyakan bagaimana puisi dapat dipentaskan. Lebih jauh, ia membuka pembicaraan tentang batas antara adaptasi dan penciptaan: kapan sebuah pertunjukan masih dapat dipahami sebagai perwujudan dari puisi, dan kapan proses artistiknya justru telah melahirkan karya baru?
Pertanyaan tersebut membuat “Dari Puisi ke Dramaturgi” relevan bukan hanya bagi pelaku teater dan penyair, tetapi juga bagi pembaca yang ingin memahami bagaimana sebuah teks sastra dapat mengalami kehidupan kedua ketika bertemu dengan panggung.
Sebab puisi tidak selalu berakhir ketika halaman terakhir dibaca.
Kadang, ia baru mulai berubah ketika menemukan suara, tubuh, ruang, dan penontonnya.
Kirim Puisi Poetry Prairie
Discover more from Poetry Prairie
Subscribe to get the latest posts sent to your email.
