Rumah Air


Dari perut langit, awan hitam pecah
membawa kabar dari hulu yang tak lagi sabar memeluk tanah.
Berjatuh air, mula-mula lembut seperti bisik doa,
lalu menjelma cambuk deras yang mengetuk setiap genting dengan murka basah.

Di tepi kali yang tua, setumpuk pelindung kami terdiam pasrah.
Lantai retak berubah sungai kecil,
kursi-kursi hanyut pelan seperti perahu yang kehilangan dermaga.
Air datang bukan sebagai tamu,
melainkan sebagai tuan yang menuntut seluruh ruang jadi miliknya.

Mamah berlari dengan langkah yang basah,
Aki mengangkat radio, menyelamatkan suara dari tenggelamnya waktu.
Aku hanya memeluk lutut, mendengar degup hujan menyaingi detak jantung kami.
Di wajah kami, takut menjelma kabut; tapi di baliknya, ada doa yang tak pernah padam.

Luapan air pergi meninggalkan lumpur,
tapi di telapak tangan kami masih tertinggal hangat teh manis pemberian tetangga.
Rumah kami mungkin karam,
namun rumah sejati itu terbuat dari cinta yang tak hanyut,
dari genggaman yang tetap erat walau dunia di luar menjadi lautan sementara.


HOUSE OF WATER


From the womb of the sky, black clouds split open,
bearing words from the upriver, impatient at last, to hold the land.
Water is pouring, soft as a murmured prayer,
then unfolds into a furious lash, beating roofs with soaked rage.

Along the old riverbank, our frail defenses fall quietly.
Cracked floors shift into streams;
the chairs drift away like the unmoored boats.
The water comes, not as a guest,
but as the landlord claims every space as its name.

Mother runs with watery steps.
Grandfather lifts the radio, rescuing voices from time’s deep sink.
I fold myself small, listening to the pouring rain against the heart.
On our faces, fear thins into mist,
yet beneath it, a prayer never fades out.

When the water retreats, it leaves a trace of mud.
But in our hands, the warmth of sweet tea from our neighbours lingers.
The house may have drowned,
but a real home is made from love that does not drift,
of hands that keep on holding us
even when the world becomes a passing sea.


Maulana. Berusia 28 tahun dan seorang karyawan di salah satu perusahaan swasta di Jakarta. Menulis untuk kesenangan hati sehingga terbisik dalam benak ingin membagikan karya-karyanya untuk orang lain dengan tujuan agar bermanfaat untuk orang lain melalui karya.

Email: Muhlana287@gmail.com

Translation: Poetry Prairie ©2026

Leave a comment