Di kotamu yang semrawut, menjadi sederhana, adalah hal yang sulit dijalani. Sesuatu yang rumit dilakoni. Di kotamu yang semrawut, hujan yang jatuh bukan lagi air. Huruf mengalir deras dari ujung pena, menjadi kata dan menari-nari di ujung lidah. Menjadi bahasa. Membanjiri. Menyeretku pada gang-gang bertembok hijau yang terhimpit. Di kotamu, kisah lampau yang kusut masai adalah benang yang takkan pernah terurai.

Di kotamu yang sarat kenangan, mataku terpaku pada sebuah persimpangan bisu. Menatap bingung pada ingatan dan kenyataan yang hilir mudik tiada beda. Kadang tersesat dalam ingatan, kadang terdampar pada kenyataan. Di kotamu yang sarat kenangan, tanpa tugu peringatan, ingatan dan kenyataan campur aduk. Bergelut mencari cara merasuki nurani. Titik temu adalah semu dalam kenyataan dan abadi dalam ingatan.

Dalam kata-kataku, yang semrawut, kotamu menjadi sederhana. Mudah dijalani, mudah ditelusuri. Mengalir dari ujung penaku. Membisu di bubungan bahasa. Tiada hiruk-pikuk kenangan yang lalu-lalang. Tidak terseret, tidak tersesat dalam kisah lampau yang seringkali memukau.

Dalam ingatanku, kotamu berdiam. Membisu.

Di baris-baris kata yang semrawut,
kalut, adalah kotamu yang kusesap.
Di kotamu yang sarat kenangan,
dalam ingatan aku tersesat.


Bekasi, 04 Januari 2020


Donroy. Lahir di NTT pada bulan Februari. Pertama kali membaca puisi-puisi Rendra, aku langsung jatuh hati pada puisi. 

Email: donidonroy@gmail.com