Aku adalah air, yang asin, seperti keringatmu
Ibuku adalah batu karang, yang terjal, yang terkikis
Ayahku adalah rumput laut, yang lembut, yang terjejak
Kakakku adalah kerang di dasar laut, yang diam, yang beku
Adikku adalah bintang laut, yang bodoh, yang tidak punya otak
Temanku adalah para putri duyung yang berkilau, yang bersinar
Kekasihku adalah para putra duyung, yang gagah,
yang angkuh dan mencampakanku
Dan aku mengambang, pada setiap cerita yang
disampaikan kepakan sirip ikan yang amis
Berjuta-juta luka di badan mereka karena goresan jala, namun manis

Lalu kemarin aku mendengar bahwa tangis bibi paus
membuat seisi lautan berduka, karena anaknya hilang,
hanya tersisa tombak yang tenggelam dengan suka
Setiap sore aku akan pergi ke daratan, menjadi
serakah sesekali mengintip para kaki suci
Katanya, kata mereka

Mereka berlarian, tebaran pasir menempel, tersapu gelak-tawa
Aku menari, dengan satu-dua gerakan kaku, menatap senja dari bawah
Ketika hendak menyampaikan salam pada burung
camar, aku melihat dia terbang rendah
Lalu terjun bebas dari dahan, memeluk tubuhku, aku
mencicipi amis darahnya

Aku mencari penyebabnya, dan sepasang kaki suci menghampiriku
Meriakkanku dengan kasar, dia mengambil temanku,
bangkai camar itu, di punggungnya ada selongsong besi hitam panjang
Dan sepasang kaki suci itu menghampiriku,
mengencingiku, meludahiku, meracuniku

Jadi aku pulang, dengan tangis dan warnaku yang tak lagi biru
Aku bercerita pada ibu, pada ayah dan pada saudara-saudaraku
Namun aku ternyata lupa akan sesuatu, mereka sudah lebih dulu menjadi diam, dengan bercak hitam di hati
mereka, yang diinjak para kaki suci
Katanya, kata mereka

Esoknya, aku harus mengantar bibi paus ke tepian,
menyaksikan dia berhenti menangis,
memeluk batu karang yang dikira anaknya
Aku menyurut, tanpa mengucapkan selamat malam
untuk kekasihku para putra duyung
Aku tidak lagi asin, aku menghilang

—–

Penulis: Mulia Sabrina

Poetry Prairie Literature Journal #4 “Narasi Dari Laut”