Festival Penyair Perempuan Indonesia 2026 di Bandung menghadirkan peluncuran antologi Nyukcruk Galur Kuningan, diskusi sastra, dan panggung puisi tentang kearifan lokal.
Festival Penyair Perempuan Indonesia 2026: Merawat Kearifan Lokal melalui Puisi
Pada 17 Oktober 2026, Festival Penyair Perempuan Indonesia (FPPI) kembali digelar untuk tahun kedua. Diselenggarakan oleh Penyair Perempuan Indonesia (PPI) bersama Balai Bahasa Provinsi Jawa Barat, festival tahun ini berlangsung di Bandung, menghadirkan perayaan sastra yang mempertemukan puisi, tradisi, riset budaya, dan suara perempuan.
Setelah penyelenggaraan perdana di Perpustakaan Nasional, Jakarta, pada tahun sebelumnya, FPPI 2026 memilih Jawa Barat sebagai ruang perjumpaan yang baru. Keputusan ini juga berkaitan dengan kegiatan Pulang ke Kampung Tradisi (PKT) di Kuningan, yang menjadi titik berangkat bagi proses kreatif dan penggalian pengalaman empiris para penyair.
Nyukcruk Galur Kuningan: Puisi sebagai Arsip Budaya
Salah satu agenda utama festival adalah peluncuran buku Nyukcruk Galur Kuningan, antologi ketujuh sejak Penyair Perempuan Indonesia berdiri. Buku ini menghimpun puisi-puisi yang lahir dari riset dan kunjungan para anggota PPI ke sejumlah tempat di Kuningan, termasuk Desa Adat Majalaya, Desa Cikaso, dan Pasar Renteng di Desa Cibogo.
Pengalaman menyaksikan langsung kehidupan masyarakat, adat istiadat, tradisi, dan budaya setempat diendapkan menjadi karya puisi. Melalui bahasa dan kepekaan masing-masing penyair, berbagai pengalaman tersebut diabadikan sebagai catatan puitis tentang kehidupan yang terus bergerak di tengah perubahan zaman.
Lebih dari sekadar antologi, Nyukcruk Galur Kuningan diharapkan menjadi pertinggal budaya bagi generasi mendatang, sumber pendukung bagi penelitian lanjutan, serta dokumentasi atas warisan tradisi yang mungkin berubah atau menghilang seiring waktu.
Bincang Karya: Kearifan Lokal dan Perempuan yang Menjaganya
Mengusung tema “Kearifan Lokal dan Perempuan yang Menjaganya,” acara peluncuran buku dan bincang karya menghadirkan para narasumber dari bidang kepenyairan, penelitian sastra, dan kajian budaya.
Diskusi menghadirkan Nenden Lilis Aisyah, Sarip Hidayat, M. Irfan Hidayatullah, dan Ratna Ayu Budhiarti, dengan Muhammad Ade Putra sebagai moderator. Acara diawali dengan prolog dari Ketua PPI, Kunni Masrohanti, serta Kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Barat, Dr. Herawati.
Selain peluncuran buku dan diskusi, festival juga menghadirkan panggung puisi yang melibatkan anggota PPI dari berbagai wilayah Indonesia. Penampilan khusus dari Adew Habtsa, Abah Ocim, dan para seniman lainnya turut memperkaya rangkaian acara.
Merawat Ingatan, Menghidupkan Suara Perempuan
Festival Penyair Perempuan Indonesia 2026 menjadi ruang bagi perempuan untuk merawat ingatan kolektif melalui sastra. Di dalam puisi, kearifan lokal tidak hanya hadir sebagai gambaran masa lalu, tetapi juga sebagai pengetahuan hidup yang diwariskan, dipertanyakan, dan dimaknai kembali.
Melalui Nyukcruk Galur Kuningan, para penyair memperlihatkan bagaimana perjalanan, pengamatan, dan perjumpaan dengan masyarakat dapat menjelma menjadi karya yang melampaui pengalaman personal. Puisi menjadi cara untuk menyimpan jejak, menjaga keberagaman budaya, dan membuka percakapan antargenerasi.
Di Bandung, festival ini kembali menegaskan bahwa perempuan bukan sekadar pencatat tradisi, melainkan juga pencipta pengetahuan dan penjaga ingatan melalui kata-kata.
Festival Penyair Perempuan Indonesia 2026 — sebuah perjumpaan antara puisi, perempuan, dan warisan budaya yang terus hidup.


Agenda lainnya: Mata Badai: Pentas Tutur Puisi Lagu Dee Lestari di Festival Sastra Yogyakarta
Kirim Puisi Poetry Prairie
Discover more from Poetry Prairie
Subscribe to get the latest posts sent to your email.
