Langkahnya lunglai di lorong waktu yang sekarat
menyusuri jejak janji, seribu kata yang patah.
Ia coba menggapai matahari
dengan segumpal malu yang berdetak di balik dada,
bagai luka yang tak sempat dilukis senja.
Semua warna telah ia peluk
namun tak satu pun mampu menjelma makna,
ia berjalan di antara kerak keserakahan
yang mendidih dalam cawan ambisi.
Nada kehilangan nadir,
sajak kehilangan bait,
metafora menggantung
bagai bintang yang ditinggal malam.
Kemana sang penyair?
Akankah ia kembali meramu kata
dari serpih langit dan debu tanah
menyulam dunia yang retak dengan puisi?
Bandung, Juli 2025
WHERE HAS THE POETS GONE
His steps falter in the dying corridor of time
tracing the footprints of promises,
a thousand words left broken.
He tries to reach the sun
with a clot of shame pulsing behind his chest,
like a wound left unpainted by the dusk.
All colors he has embraced,
yet, not even one could turn into meaning,
He walks among the crust of greed
boiling in the cup of ambition.
Tone has lost its nadir,
the poem has lost its stanza,
metaphor adrifts
like a star abandoned by the night.
Where has the poet gone?
Will he return to distill the words
from shards of sky and grains of dust,
to stitch a fractured world with poetry?
Rizal De Loesie dengan nama asli Yufrizal, seorang ASN Pemerintah Kota Bandung yang suka menulis puisi, cerpen dan karya ilmiah. Telah beberapa menerbitkan buku Antologi Puisi.
Email: rizaldeloesie55@gmail.com
Translation: Poetry Prairie ©2026