Tokoh Puisi: Raja Ali Haji


Pada bulan September 2022, Poetry Prairie menghadiri undangan Festival Sastra Internasional Gunung Bintan yang diselenggarakan di Kota Tanjung Pinang, Kepulauan Riau. Yayasan Jembia Emas yang diketuai Datok Rida K. Liamsi, seorang sastrawan Riau, menyambut para penyair dari Indonesia, Malaysia dan Singapura dalam pergelaran festival sastra yang cukup meriah dalam upayanya untuk merawat sastra dan tradisi tanah Melayu. 

Kota Tanjung Pinang sendiri merupakan tempat asal dari sastrawan Melayu, Raja Ali Haji dari Pulau Penyengat yang terkenal dengan karyanya "Gurindam Dua Belas", sebuah puisi Melayu lama.

Berikut kami tampilkan "Gurindam Dua Belas", untuk menghormati dan mengenang salah satu karya sastra warisan nusantara.

GURINDAM DUA BELAS


Gurindam I
Ini gurindam pasal yang pertama:

Barang siapa tiada memegang agama, sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama. Barang siapa mengenal yang empat,
maka ia itulah orang yang ma’rifat
Barang siapa mengenal Allah,
suruh dan tegahnya tiada ia menyalah.
Barang siapa mengenal diri,
maka telah mengenal akan Tuhan yang bahri.
Barang siapa mengenal dunia,
tahulah ia barang yang teperdaya.
Barang siapa mengenal akhirat,
tahulah ia dunia mudarat.


Gurindam II
Ini gurindam pasal yang kedua:

Barang siapa mengenal yang tersebut,
tahulah ia makna takut.
Barang siapa meninggalkan sembahyang,
seperti rumah tiada bertiang.
Barang siapa meninggalkan puasa,
tidaklah mendapat dua termasa.
Barang siapa meninggalkan zakat,
tiadalah hartanya beroleh berkat.
Barang siapa meninggalkan haji,
tiadalah ia menyempurnakan janji.


Gurindam III
Ini gurindam pasal yang ketiga:

Apabila terpelihara mata,
sedikitlah cita-cita.
Apabila terpelihara kuping,
khabar yang jahat tiadalah damping.
Apabila terpelihara lidah,
niscaya dapat daripadanya faedah.
Bersungguh-sungguh engkau memeliharakan tangan,
daripada segala berat dan ringan.
Apabila perut terlalu penuh,
keluarlah fi’il yang tiada senunuh.
Anggota tengah hendaklah ingat,
di situlah banyak orang yang hilang semangat
Hendaklah peliharakan kaki,
daripada berjaian yang membawa rugi.


Gurindam IV
Ini gurindam pasal yang keempat:

Hati kerajaan di dalam tubuh,
jikalau lalim segala anggota pun rubuh.
Apabila dengki sudah bertanah,
datanglah daripadanya beberapa anak panah.
Mengumpat dan memuji hendaklah pikir,
di situlah banyak orang yang tergelincir.
Pekerjaan marah jangan dibela,
Nanti hilang akal di kepala.
Jika sedikitpun berbuat bohong,
boleh diumpamakan mulutnya itu pekong.
Tanda orang yang amat celaka,
aib dirinya tiada ia sangka.
Bakhil jangan diberi singgah,
itupun perampok yang amat gagah.
Barang siapa yang sudah besar,
janganlah kelakuannya membuat kasar.
Barang siapa perkataan kotor,
mulutnya itu umpama ketur2.
Di mana tahu salah diri,
jika tidak orang lain yang berperi.


Gurindam V
Ini gurindam pasal yang kelima:

Jika hendak mengenal orang berbangsa,
lihat kepada budi dan bahasa,
Jika hendak mengenal orang yang berbahagia,
sangat memeliharakan yang sia-sia.
Jika hendak mengenal orang mulia,
lihatlah kepada kelakuan dia.
ika hendak mengenal orang yang berilmu,
bertanya dan belajar tiadalah jemu.
Jika hendak mengenal orang yang berakal,
di dalam dunia mengambil bekal.
Jika hendak mengenal orang yang baik perangai,
lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai


Gurindam VI
Ini gurindam pasal yang keenam:

Cahari olehmu akan sahabat,
yang boleh dijadikan obat.
Cahari olehmu akan guru,
yang boleh tahukan tiap seteru.
Cahari olehmu akan isteri,
yang boleh dimenyerahkan diri.
Cahari olehmu akan kawan,
pilih segala orang yang setiawan.
Cahari olehmu akan abdi,
yang ada baik sedikit budi,



Gurindam VII
Ini Gurindam pasal yang ketujuh:

Apabila banyak berkata-kata,
di situlah jalan masuk dusta.
Apabila banyak berlebih-lebihan suka,
itulah tanda hampirkan duka.
Apabila kita kurang siasat,
itulah tanda pekerjaan hendak sesat.
Apabila anak tidak dilatih,
jika besar bapanya letih.
Apabila banyak mencela orang,
itulah tanda dirinya kurang.
Apabila orang yang banyak tidur,
sia-sia sahajalah umur.
Apabila mendengar akan khabar,
menerimanya itu hendaklah sabar.
Apabila mendengar akan aduan,
membicarakannya itu hendaklah cemburuan.
Apabila perkataan yang lemah-lembut,
lekaslah segala orang mengikut.
Apabila perkataan yang amat kasar,
lekaslah orang sekalian gusar.
Apabila pekerjaan yang amat benar,
tidak boleh orang berbuat onar.


Gurindam VIII
Ini gurindam pasal yang kedelapan:

Barang siapa khianat akan dirinya,
apalagi kepada lainnya.
Kepada dirinya ia aniaya,
orang itu jangan engkau percaya.
Lidah yang suka membenarkan dirinya,
daripada yang lain dapat kesalahannya.
Daripada memuji diri hendaklah sabar,
biar pada orang datangnya khabar.
Orang yang suka menampakkan jasa,
setengah daripada syirik mengaku kuasa.
Kejahatan diri sembunyikan,
kebaikan diri diamkan.
Keaiban orang jangan dibuka,
keaiban diri hendaklah sangka.


Gurindam IX
Ini gurindam pasal yang kesembilan:

Tahu pekerjaan tak baik tetapi dikerjakan,
bukannya manusia yaituiah syaitan.
Kejahatan seorang perempuan tua,
itulah iblis punya penggawa.
Kepada segaia hamba-hamba raja,
di situlah syaitan tempatnya manja.
Kebanyakan orang yang muda-muda,
di situlah syaitan tempat berkuda.
Perkumpulan laki-laki dengan perempuan,
di situlah syaitan punya jamuan.
Adapun orang tua yang hemat,
syaitan tak suka membuat sahabat
Jika orang muda kuat berguru,
dengan syaitan jadi berseteru.


Gurindam X
Ini gurindam pasal yang kesepuluh:

Dengan bapa jangan durhaka,
supaya Allah tidak murka.
Dengan ibu hendaklah hormat,
supaya badan dapat selamat.
Dengan anak janganlah lalai,
supaya boleh naik ke tengah balai.
Dengan isteri dan gundik janganlah alpa,
supaya kemaluan jangan menerpa.
Dengan kawan hendaklah adil,
supaya tangannya jadi kafill.


Gurindam XI
Ini gurindam pasal yang kesebelas:

Hendaklah berjasa, kepada yang sebangsa.
Hendaklah jadi kepala, buang perangai yang cela.
Hendaklah memegang amanat, buanglah khianat.
Hendak marah, dahulukan hujjah.
Hendak dimulai, jangan melalui.
Hendak ramai, murahkan perangai.


Gurindam XII
Ini gurindam pasal Yang keduabelas:

Raja muafakat dengan menteri,
seperti kebun berpagarkan duri.
Betul hati kepada raja, tanda jadi sebarang kerja.
Hukum adil atas rakyat, tanda raja beroleh inayat.
Kasihkan orang yang berilmu, tanda rahmat atas dirimu.
Hormat akan orang yang pandai,
tanda mengenal kasa dan cindai.
Ingatkan dirinya mati, itulah asal berbuat bakti.
Akhirat itu terlalu nyata, kepada hati yang tidak buta.


Raja Ali Haji bin Raja Haji Ahmad adalah sastrawan dan ulama abad ke-19 yang dijuluki Bapak Bahasa Indonesia. Hal ini karena ia memprakarsai penyusunan dasar-dasar tata bahasa Melayu. Pada tahun 1858 ia menulis kitab pengetahuan bahasa yang kemudian menjadi pelopor perkamusan monolingual Bahasa Melayu, yang menjadi cikal bakal Bahasa Indonesia.


Raja Ali Haji dilahirkan pada tahun 1808 M di pusat Kesultanan Riau-Lingga di Pulau Penyengat (kini masuk dalam wilayah Kepulauan Riau, Indonesia). Ia terkenal akan karya-karya sastranya yang berbentuk prosa maupun puisi. Karya-karya sastranya memiliki beragam tema diantaranya hukum, sastra, bahasa, dan yang paling banyak adalah keagamaan.


Salah satu karyanya yang paling dikenal adalah Gurindam Dua Belas yang ditulis tahun 1847, yang terdiri dari 12 pasal berisi nasihat atau petunjuk hidup. Ia menciptakan "Gurindam Dua Belas" di tanah kelahirannya di Pulau Penyengat, Kepulauan Riau dilatarbelakangi konflik internal kerajaan dan tekanan penjajah pada Kesultanan Riau-Lingga. Tujuannya agar nilai-nilai keislaman tidak terkikis oleh konflik masyarakat Melayu saat itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s