Perempuan-Perempuan Chairil (11-12 November 2017)

“PEREMPUAN-PEREMPUAN CHAIRIL” adalah lakon yang mencoba mengungkap sisi lain dari Chairil Anwar. Puisi-puisinya membuka sisi lain Chairil yang romantis, sosok yang memikat dan memiliki pesona orang-orang di sekitarnya. Lakon ini akan menjadi “biografi puitis” dari Chairil Anwar; sebuah biografi yang digali dari puisi-puisi yang ditulisnya untuk perempuan-perempuan “yang dicintainya” baik secara terbuka atau pun diam-diam. Dari kisah cinta yang penuh gelora hingga kisah cintanya yang romantis dan muram terpendam.

Chairil memang menulis beberapa sajak yang secara terang-terangan ditujukan untuk perempuan yang dicintai atau dikaguminya. Bahkan beberapa nama beberapa kali muncul dalam sajak yang ditulisnya. Sementara dari sajak-sajaknya yang lain, yang bertemakan cinta, kita bisa merasakan perasaan dan suasana hatinya yang berkaitan dengan kisah hidup Chairil. Dari sajak-sajak itulah, kita bisa merekonstruksi kembali sejarah kisah cinta Chairil. Sebuah kisah cinta yang tak hanya penuh gelora dan romantis, tetapi juga kisah cinta yang meneriakkan jejak estetis, sebuah kisah cinta yang sangat puitis.

Kisah ini berkisar pada hubungan cinta Chairil Anwar dengan beberapa perempuan, yakni Ida, Sri Ajati, Mirat dan Hapsah (yang kemudian menikah dengan Chairil). Empat perempuan ini boleh dibilang bisa mewakili pergulatan cinta dan hidup Chairil.

Ida adalah gambaran perempuan yang terpelajar dan intelektual pada jamannya.  Ia mahasiswi yang sangat cerdas dan pintar, yang dipuja dan dikagumi Chairil sebagai lawan berdebat dan berdikusi yang cakap. Tapi Ida sendiri menganggap Chairil tak punya masa depan.

Sri Ajati disebut dalam sajak Chairil yang sangat romantis: Senja di Pelabuhan Kecil. Ajati perempuan yang cantik dan berwajah melankolis. Tipe perempuan yang menjadi pusat perhatian para lelaki. HB Jassin menjelaskan: tak ada lelaki yang tak jatuh cinta pada kecantikan Ajati. Kecantikan Sri Ajati pula yang membuat pelukis besar Basoeki Abdullah melukis sosoknya. Pada Ajati inilah pesona romantisme cinta Chairil muncul. Ajati menganggap Chairil sebagai sosok yang jujur dan pemberani. Tetapi ia sendiri tak pernah tahu Chairil memuja dan mencintainya. Bahkan sampai Chairil meninggal, Ajati tak pernah tahu Chairil menulis sajak untuk dirinya.

Mirat merupakan cinta penuh gelora pemberontakan Chairil Anwar. Cinta yang menjadi tenaga yang menginspirasi sajak-sajaknya yang bergelora. Cinta yang membuat Chairil menjadi produktif menulis sajak. Perjalanan Chairil dan Mirat adalah semangat anak muda yang tak mau tunduk dalam kungkungan dan situasi dunia yang carut marut karena perang.  Mirat mencintai Chairil, tetapi ayah Mirat tak menyetujuinya. Mirat akhirnya menikahi dokter tentara. Di sinilah tragisme dan kemurungan Chairil kemudian banyak muncul dalam sajak-sajaknya.

Di ujung hidup Chairil, akhirnya Chairil pun memilih bersikap realistis dalam hidupnya, ia memilih menikah dengan Hapsah, seorang pegawai yang sudah punya gaji dan penghasilan tetap. Hapsah boleh dibilang bukan tipe perempuan ideal Chairil. Bahkan perkawinannya banyak diwarnai pertengkaran, karena Hapsah tak bisa memahami kepenyairan Chairil yang dianggapnya tak menghasilkan uang. Tapi di dekat ajalnya, ketika mulai sakit-sakitan, Chairil seakan menyadari cintanya pada Hapsah, juga rasa hormatnya pada perempuan yang diperistrinya itu. Pada Hapsah cinta Chairil menemukan rumahnya, menemukan kehangatannya.

Moment-moment puitis Chairil Anwar dengan para perempuan itulah yang akan dihadirkan dalam lakon “Perempuan-Perempuan Chairil” ini. Dan untuk mewujudkan moment puitis itu dalam pertunjukan, maka pementasan ini akan melakukan pendekatan estetis dengan konsep teater sinematografis yang digunakan untuk menghadirkan suasana latar cerita, yakni suasana Jakarta Tempo Doeloe. Konsep sinematografis itu diadopsi dalam layar sinema untuk setting panggung: bagaimana lanskap suasana dan setting panggung akan menjadi satu-kesatuan dengan multimedia yang dimunculkan pada layar belakang.

PEMAIN

REZA RAHADIAN sebagai Chairil Anwar|


MARSHA TIMOTHY sebagai Ida |


CHELSEA ISLAN sebagai Sri Ajati |


TARA BASRO sebagai Mirat|


SITA NURSANTI sebagai Hapsah


WAKTU dan TEMPAT

Waktu      : Sabtu dan Minggu, 11 dan 12 November 2017
Pukul        : 20.00 WIB
Tempat     : Teater Jakarta Taman Ismail Marzuki Jl. Cikini Raya no. 73, Cikini, Menteng Jakarta

www.titimangsa.or.id

Advertisements