House of the Unsilenced (15 Agustus – 1 September 2018)

Enam belas seniman, penulis, dan penampil, bersama para penyintas kekerasan seksual dengan berbagai latar belakang dan pengalaman, berkarya bersama demi pemberdayaan.
Kekerasan seksual terjadi setiap hari di mana-mana, tetapi sering kita tidak mau melihat atau mengakuinya. Dapatkah seni dan sastra menjadi medium untuk para penyintas untuk membuka mata kita? Seperti apa kehidupan dan perjuangan penyintas hingga sanggup memecah kebungkaman, mencari keadilan, dan mencapai pemulihan? Apa yang dicapai dan dikorbankan ketika bercerita? Apa artinya mengubah trauma menjadi seni? Bagaimana seni mengubah cara mereka memandang diri dan dunia? Dan masih banyak lagi nuansa yang muncul dari eksplorasi dalam ajang seni ini.

SENIMAN
Bisik-bisik Kembang Goyang
Dewi Candraningrum
Dyantini Adeline
Eliza Vitri Handayani
Farul Piliang
Molly Crabapple
Ningrum Syaukat
Rani P. Collaborations
Ratu Saraswati
Salima Hakim
Yacko

PENGAJAR LOKAKARYA
Randu Rini
Tarlen Handayani
Margaret Rose Agusta
Eliza Vitri Handayani
Ario Kiswinar Teguh
Ningrum Syaukat

PENGGAGAS DAN PENGARAH ACARA
Eliza Vitri Handayani

KURATOR
Ika Vantiani

PEMBUKAAN
Rabu, 15 Agustus 2018
17:00-20:00

LOKASI
Galeri Cemara 6, Jalan HOS Cokroaminoto no.9-11 Menteng, Jakarta

Rabu, 15 Agustus – Minggu, 2 September 2018

Acara terbuka untuk umum dan bebas biaya.

Lihatlah hasil karya para seniman dan penyintas, dan mari meningkatkan kesadaran kita tentang ihwal dan dampak kekerasan seksual dengan memperhatikan ekspresi dan kreasi para penyintas bersama para seniman.

More Info:
Instagram: @Unsilenced_


WORKSHOP DRAMATIC READING
(30-31 Agustus 2018)

This slideshow requires JavaScript.

Di sini ada 2 jenis penampil: mereka yang membacakan kisah sendiri dan mereka yang membacakan kisah orang lain. Mereka yang membacakan pengalaman sendiri mesti mengambil jarak karena dengan begitu dapat melepas beban, membaginya dengan orang lain, dan melihat pengalaman itu dengan lebih jelas, memaknainya, dan menentukan sikap. Mereka yang membacakan pengalaman orang lain justru mesti menempuh jarak, mendekatkan diri dan berempati, merasakan bagaimana rasanya mengalami hal itu. Jadi di sini kita bersama-sama melakukan perjalanan itu, para penampil belajar bagaimana rasanya ini bagi para penyintas, para penyintas belajar bagaimana jadi penampil yang lebih baik, dan kita menyatakan solidaritas dan melakukannya bersama. Kegiatan ini sederhana, tidak berbiaya milyaran rupiah, tapi sangat berharga.’ Kurang-lebih begitu yang disampaikan Naomi Srikandi di penghujung workshop singkatnya. Tunggu penampilan mereka di Sabtu malam, 1 September 2018 di Malam Penutupan House of the Unsilenced, Cemara 6 Galeri-Museum, mulai jam 6 malam.

More Info:
Instagram: @Unsilenced_


DRAMATIC READING & OPEN MIC (PENUTUPAN)

This slideshow requires JavaScript.

Siapa di masyarakat kita, terutama perempuan atau minoritas, yang tidak pernah mengalami pelecehan atau kekerasan seksual? Apakah kamu, seperti kami, merasa muak dan lelah dan ingin suara kamu didengar dan diperhatikan?

Mari tunjukkan dukungan bagi kawan-kawan penyintas di Malam Penutupan HOUSE OF THE UNSILENCED, pada sesi Dramatic Reading and Open Mic Night.

Menampilkan: Sakdiyah Ma’ruf (comedian), Mian Tiara (singer-songwriter), Naomi Srikandi (aktor dan sutradara), Paduan Suara Dialita (choir), Farul Piliang (aktor, seniman), dan para penyintas serta dramatic readers.

Sabtu, 1 September 2018 jam 6-8 malam
Cemara 6 Galeri-Museum,
Jalan HOS Cokroaminoto no.9-11
Menteng, Jakarta

This is your night. This is our night. Let’s speak up together, let’s scream, let’s cry, let’s hug each other, let’s fvckin’ roar until they hear us. Sign up, LET’S CELEBRATE OUR VOICES, let’s end [for now] this beloved art event with an unforgettable night.

More Info:
Instagram: @Unsilenced_

Advertisements