7th Borobudur Writers & Cultural Festival (22-25 November 2018)

Borobudur Writers & Cultural Festival adalah wahana pertemuan bagi para penulis baik fiksi maupun non fiksi, para pekerja kreatif, aktivis budaya dan keagamaan lintas iman. Pada tiap tahunnya BWCF berusaha menyajikan tema utama terpilih yang dianggap mampu merangsang para hadirin untuk menyadari kembali keunikan dan kekayaan berbagai pemikiran sastra, kesenian dan religi nusantara.

Borobudur Writers and Cultural Festival (BWCF) ketujuh ini mengambil tema “Diary and Travelling: Setelah 1300 tahun Buku Harian I-Tsing (Membaca Ulang Kitab-kitab Pelawat Asing tentang Nusantara)“.

Judul tema ini dipilih karena untuk membicarakan berbagai catatan harian para musafir asing yang menjelajah nusantara, diawali dari sebuah catatan harian tua yang ditulis seorang biku Cina terkenal bernama I-Tsing yang pernah melawat ke Sumatra pada abad 7 Masehi untuk menerjemahkan sutra-sutra, setelah ia belajar di Universitas Nalanda, India.

Di samping merilis buku terjemahan I-Tsing, dalam Opening BWCF ini juga akan dilaunching delapan buku lain yang terutama berkenaan dengan catatan sejarah para pelawat asing di nusantara.

BWCF 2018 akan digelar selama empat hari di Yogyakarta dan Magelang pada tanggal 22-25 November 2018. Setiap tahunnya, BWCF dihadiri oleh ratusan penulis, antropolog, sejarahwan, mahasiswa, dan masyarakat umum dengan mata acara berupa simposium & pidato kebudayaan, peluncuran buku, pemutaran film, workshop kreatif, pameran buku, foto dan lukisan, pertunjukan seni oleh penari, penyair dan sastrawan serta pemberian penghargaan Sang Hyang Kamahayanikan kepada penulis, sejarahwan, peneliti, budayawan, dan tokoh yang berjasa dalam pengembangan budaya dan sejarah Nusantara.

Karena tema tahun ini menyangkut dunia travelling dan pelancongan, berbeda dengan BWCF terdahulu, secara khusus pada BWCF 2018 juga akan diundang kalangan para pelaku dunia perhotelan, pariwisata dan tour-tour. Travelling kini telah menjadi sebuah gaya hidup kelas menengah. Travelling sudah menjadi kebutuhan sekunder. Makin ada trend di kalangan anak muda untuk mencari destinasi travelling alternatif yang tidak sekedar wisata biasa. Di antara yang dipandang sebagai travelling alternatif adalah heritage travelling atau traveling sejarah. Materi-materi yang akan didiskusikan di BWCF 2018 bila dikembangkan bisa menjadi sebuah wisata atau pelancongan alternatif. Wisata yang tujuannya bukan hanya menikmati keindahan tapi juga memberikan tambahan gizi pengetahuan dan sejarah.

More Info: http://www.borobudurwriters.id

Advertisements