Madura yang Melaut

Tanah ini bernama ranah garam
Asin di lidahnya, putih di rambutnya
Isi lambung adalah nelayan yang haus ikan-ikan
Kulitnya pasir-pasir kasar dengan terumbu karang
Debur di tubuhnya ialah keringat yang terkumpul
jadi gelombang
Ombak di dadanya mengapit kehidupan yang
menjanjikan masa depan
bahwa bersama badai bukan berarti harus lempar
jangkar-jangkar
bahwa jika tiba kemarau panjang, tak selamanya
hasil tangkapan melimpah besar

Continue reading Madura yang Melaut

Anak Jiwaku

Anak jiwaku mengapa durjana
bercumbulah dalam kesesakan
laiknya air dijamahi ekor ikan
seperti embun bercinta tunas cemara
laiknya purnama direnda iringan malam
seperti air bergelut relung awan legam
laiknya siulan pipit pada putra cakrawala
asa terbumbung, terikat jiwa dalam doa
tersimpul roh dalam puja, asa terulur menuju sosok-Nya

Continue reading Anak Jiwaku

Mekarnya Hidup Wakilkan Dengan Doa

Betapa purna laku mesti disemai
Dalam perahu kayuh hayat
Agar tak surut melayari samudera
Tak tenggelam melintas jarak dalam depa tak terukur

Adalah harapan!
Umpama napas yang pecah menyebari paru-paru
Melapangkan rongga-rongga jantung
Ke mana arah haluan disandarlabuhkan

Adalah semangat!
Aroma udara selalu mendenyar nadi
Titah perigi tampungkan kecamuk
ombang-ambing kalut
Di pusaran onak hanyutkan sumringah pencapaian

Bagaimana mungkin aku tak menyerah
Jika badai tak henti membujuk
laruh dalam amuknya
Membenci alunan laut yang mengalun sepoi

Continue reading Mekarnya Hidup Wakilkan Dengan Doa

Autobiografi Tanah Merah

setelah hari keenam; Ahmad Nurullah

akulah pekarangan semesta
cikal bakal peradaban umat manusia
muasal sesal gairah paling purna
lalu cinta, birahi, dan ambisi
tumbuh subur bersama margasatwa
yang dilindungi firman-firman Tuhan
lalu segala materi yang melekat padaku
merekah-rekah di udara
menjadi cermin bagi samudera
bukit-bukit dan gunung merapi
di negeri-negeri jauh tak bernama
maka di telapak tanganku
Adam dan Hawa merayakan pertemuan
memasak kehidupan dengan sisa ingatan
tentang taman surga dan rayuan syetan

akupun tumbuh oleh ciuman terpanas
di bawah matahari yang masih belia
dimana bulan dan bintang-bintang tertidur pulas
waktupun berhitung tanpa angka-angka
setelah jarak menemukan maknanya
dalam pelukan terpanjang di malam ketujuh

demi pelukan Adam dan Hawa di pelaminan Tuhan
kulahirkan buah-buahan, sayur-sayuran dan air
dan angin liar dari segala penjuru
kukultuskan sebagai penanda musim
isyarat permulaan kehidupan di dunia

ketahuilah, pada mulanya di pekarangan semesta
tiada janji buta dan keangkuhan keparat
wajah alam penuh senyum dan ketentraman
sebab arwah-arwah kegelapan belum buas
dan tak pernah memilih takdir hidup gentayangan

Continue reading Autobiografi Tanah Merah

Pemburu Asa

Tunas-tunas kecil tumbuh
Lahir dari sudut kampung nun jauh
Terseok menyusuri jalan
Tertatih meraba kehidupan
Dengan semangat rimba; berontak
Dari jerat ekonomi yang mencekik harapan

Angan mendamba tanpa daya
Siluet sekolah impian
Tempat melukis cita, memupuk mimpi
Agar disemai alam, meninggi
Hingga batas jumantara terlewati

Continue reading Pemburu Asa

Poetry Prairie Lite #1

image

image

Continue reading Poetry Prairie Lite #1