Contributor List

Advertisements

Nestapa Luka Cinta Anak Penyair

Dunia basah menampung air mata seorang penyair
Merembesi langit, menetaskan hujan diatas kepala seorang bayi
Yang baru lahir di suatu subuh: ruh yang masih rapuh
Masa depannya tercipta atas tetesan cerita menantinya hingga tua
Setelah kelahiran di atas reruntuhan bangunan sehabis perang, ia berdoa
Benar-benar berdoa pada Tuhannya, “Sirnakanlah segala luka!”

Continue reading Nestapa Luka Cinta Anak Penyair

Firdaus

Jalanan ini adalah yang dulu kerap kita lalui: 
sebagai jalan pergi atau kembali. Pepohonan di tepian, ilalang yang panjang, 
reranting, dedaunan. Mereka hanya berganti usia. Persis seperti kita, tetapi mereka tak pernah kemana-mana. Sedang kita, memilih pergi.

Continue reading Firdaus

Perpustakaan Kita

Semestinya perempuan sebagai puisi,
dan kau adalah penyair
Tapi, aku memilih untuk menjadi puisi sekaligus penyair
Bukan karena aku tidak butuh kau
Sebab aku pahami :
Aku tidak butuh namaku abadi di halaman buku

Continue reading Perpustakaan Kita

Kujaratku di Bantara Dempo

Aroma harummu terbawa angin malam
Berhembus menerpa gumpalan awan
Yang menyembunyikan bulan di balik dempo itu
Dan kau taburkan segelintir cahaya yang menerangi langkahku
Agar kelak aku bisa melihat kembali jejak-jejak yang tak bersuara

Aku berjalan menafsirkan bayang-bayang
Sebagai isyarat bahwa semburat rona akan menjadi cahaya sempurna
Seperti tanda-tanda yang kau berikan
Aroma yang harum, daun yang jatuh,
atau kelopak yang beterbangan adalah arah untuk menemukanmu

Kau adalah pelepas malam
Ketika penat menyelimuti pandanganku
Membuatku terbangun dari tidur yang panjang
Setelah pesan kuhirup bersama kabut pagi
Yang perlahan menghilang dan menjadi terik fajar yang mekar

Kujaratku, kaulah cahaya pelita dalam temaramku.

Palembang, Maret 2015

Dempo adalah gunung tertinggi di Sumatera Selatan dan terletak di daerah Pagaralam


The Night Flower Beyond Dempo’s Guard

Your sweet scent was blown by the night’s wind
Blown to the wisp of clouds
that hid the moon behind dempo
And you sprinkled a handful of light that illuminated my steps
So that one day I could find the voiceless traces again

I’ve walked and interpreted shadows
As a sign that colour burst would be the perfect light
Just like the signs you gave
the sweet scent, falling leaves,
or fluttering petals are ways to find you

You are the night releaser
When tiresome has covered my eyes
Wake me up from a deep long sleep
After I inhale the message together with the morning mist
It slowly disappears and become a blazing bloom of dawn

O, my flower, you are the light beyond my shade.

Palembang, March 2015

Dempo is the highest mountain in South Sumatra and located in the area Pagaralam.

Author: Alek Brawijaya
-Translated by Poetry Prairie-

Alek Brawijaya. Lahir di Teluk Kijing Sumatera Selatan, tahun 1992.
Tulisannya pernah dimuat di Koran lokal dan beberapa media lainnya serta tergabung dalam Antologi puisi “Perauh Kelebu (2011), Munajat Tugu Bundaran (2013) dan Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia III”.
“Puisi tidak sekedar hobi melainkan sahabat sejati seperti malam saat kesunyian sebagai cermin dari ketenangan dan kedamaian. Karena ketika malam serasa segelas aksara tertuang di dalam kertas putih dan saat itulah aku bercerita tentang segalanya.”

If You Asked Me To

I would run and precede the dawn
Even when I don’t have your promise to hold on
When it is dark you are the pink in my night
With you I would dance under the moon even when it isn’t bright

I would cut my unmade bridge to heaven
Even when you make me leave my dreams
so I can talk to you at seven
When we wish and cry to God in different path
For you I would swallow this painful, shredding wrath

Because your glance worth million warm kisses
You broke my heart once, now you pick it up by pieces
No matter if in the end you’d leave me with the growling
wolves
For you I would die lonely,
with you I would let my romance unsolved

I wouldn’t mind bleeding while loving you
Oh dear, if you asked me to


Jika Kau Memintaku

Aku ‘kan berlari mendahului fajar
Meski kutak menggenggam janjimu
Ketika malam gelap kaulah merah jambuku
Denganmu kuakan berdansa di bawah rembulan meski sinar tak terang

Aku ‘kan memutus jembatan setengah jadiku ke surga
Meski kau membuatku melepas mimpi-mimpiku
agar kudapat berbincang denganmu pada pukul tujuh
Ketika kita berharap dan berdoa pada Tuhan di jalan yang beda
Demi dirimu, aku sanggup menelan amarah yang mencabik menyakitkan

Karena lirikanmu bernilai jutaan ciuman hangat
Kau patahkan hatiku sekali, sekarang kau pungut satu persatu
Tak mengapa bila pada akhirnya kau pergi meninggalkanku bersama serigala yang menggeram
Demi kamu kurela mati dalam sepi,
tanpamu lebih baik kubiarkan romansaku tak terpecahkan

Kurela berdarah mencintaimu
Oh kasih, jika kau memintaku

*

– Diterjemahkan oleh Poetry Prairie –

Bagas Anjar Nugroho. Lahir di Jakarta tahun 1997. Berstatus sebagai mahasiswa di Universitas Negeri Jakarta.
“Alasan saya suka menulis puisi adalah karena dalam puisi, saya dapat menjadi diri saya yang sebenarnya, saya dapat menggali perasaan saya untuk dituangkan dengan tak terbatas, tentu tanpa melupakan esensi dan estetika.”

Pengumuman Poetry Prairie Lite #3

Berikut ini kami umumkan hasil seleksi untuk Poetry Prairie Literature Journal #3 sebagai berikut
Continue reading Pengumuman Poetry Prairie Lite #3

Mekarnya Hidup Wakilkan Dengan Doa

Betapa purna laku mesti disemai
Dalam perahu kayuh hayat
Agar tak surut melayari samudera
Tak tenggelam melintas jarak dalam depa tak terukur

Adalah harapan!
Umpama napas yang pecah menyebari paru-paru
Melapangkan rongga-rongga jantung
Ke mana arah haluan disandarlabuhkan

Adalah semangat!
Aroma udara selalu mendenyar nadi
Titah perigi tampungkan kecamuk
ombang-ambing kalut
Di pusaran onak hanyutkan sumringah pencapaian

Bagaimana mungkin aku tak menyerah
Jika badai tak henti membujuk
laruh dalam amuknya
Membenci alunan laut yang mengalun sepoi

Continue reading Mekarnya Hidup Wakilkan Dengan Doa

Autobiografi Tanah Merah

setelah hari keenam; Ahmad Nurullah

akulah pekarangan semesta
cikal bakal peradaban umat manusia
muasal sesal gairah paling purna
lalu cinta, birahi, dan ambisi
tumbuh subur bersama margasatwa
yang dilindungi firman-firman Tuhan
lalu segala materi yang melekat padaku
merekah-rekah di udara
menjadi cermin bagi samudera
bukit-bukit dan gunung merapi
di negeri-negeri jauh tak bernama
maka di telapak tanganku
Adam dan Hawa merayakan pertemuan
memasak kehidupan dengan sisa ingatan
tentang taman surga dan rayuan syetan

akupun tumbuh oleh ciuman terpanas
di bawah matahari yang masih belia
dimana bulan dan bintang-bintang tertidur pulas
waktupun berhitung tanpa angka-angka
setelah jarak menemukan maknanya
dalam pelukan terpanjang di malam ketujuh

demi pelukan Adam dan Hawa di pelaminan Tuhan
kulahirkan buah-buahan, sayur-sayuran dan air
dan angin liar dari segala penjuru
kukultuskan sebagai penanda musim
isyarat permulaan kehidupan di dunia

ketahuilah, pada mulanya di pekarangan semesta
tiada janji buta dan keangkuhan keparat
wajah alam penuh senyum dan ketentraman
sebab arwah-arwah kegelapan belum buas
dan tak pernah memilih takdir hidup gentayangan

Continue reading Autobiografi Tanah Merah